slogan

Nyatakan Hadirmu dengan Kreasi, Wujudkan Lewat Cita dan Cinta

5.30.2024

Lanyakmi Pammantanganna Tudea: hilangnya tempat tinggal kerang

 

Foto: Muthmainnah Hakim

Wilayah pesisir Tallo-Makassar masih tercium sedikit bau mata pencaharian para nelayan, meskipun sebagian besar lebih mendominasi bau sampah dan bunyi reklamasi yang katanya untuk “keindahan dan kemajuan”.

Angin laut kala itu menahan kaki saya untuk maju selangkah menginjakkan kaki di Central Point of Indonesia (CPI). Kabarnya tempat itu sejatinya adalah kota mati, tempat terkuburnya tude dan rezeki para nelayan pesisir. Ingatan saya meraba-raba tahun 2010 tentang rumah yang tergusur. Saya tude bersama dengan nelayan digusur, tempat kami bermain petak umpet dan tempat nyaman kami untuk tinggal dan ngopi. Saat itu ratusan tude harus pindah ke wilayah yang paling dingin dan sunyi bersamaan dengan 1.105 rumah keluarga nelayan tergusur karena proyek reklamasi itu.

Jauh sebelum covid-19 datang, saya tude sudah diisolasi terlebih dahulu sebab tercemar virus reklamasi yang membuat perairan pesisir jadi tercemar, berwarna hitam pekat, berbau tak sedap dan banyak sampah. Kondisi itu membuat sebagian kerabat saya menghilang. Kalau pun ada, kerabat tude sudah tidak layak dikonsumsi karena kami bersifat deposit feeder yang menyerap zat-zat tercemar. Tubuh kami bewarna hijau menyerap sebagian dari virus reklamasi itu.

Saya juga ingin menceritakan tentang kawan saya, dia seorang manusia yang berprofesi sebagai nelayan, teman bermain petak umpet. Kami sudah jarang bertemu, dirinya sebagai nelayan kini terkatung-katung di darat. Tak pernah lagi ia temukan tempat tinggalnya, selain di trotoal jalanan CPI sejak rumahnya tergusur bersama dengan kami para tude. Lewat telepon terakhir saya dengannya, ia sempat bercerita;

“dulu disini banyak sekali tude sama kepiting, sekarang hilang semua mi sejak reklamasi, sekalian hilang juga dengan rumah ku. Katanya bede itu petugas bakal direlokasi, nah sampai sekarang appami njo. Ada mi yang kerja jadi tukang parkir, kuli bangunan, penjual asongan kek saya mi” katanya sambil menjajaki jualannya.

Tahun 90-an teman saya si nelayan ini sering mengeluarkan jokes,

“kalau ada yang banyak sekali gayanya, suruh saja cari tude” saking banyaknya kerabat tude pada saat itu. Semakin banyak reklamasi di Kota Makassar, semakin sulit kami untuk makan enak dan sehat.

 

Cerita ini akan ditampilkan di SIKU,

Kamis, 30 Mei 2024

3.27.2024

Memperingati Hari Teater: TKU Teatrikal Puisi Sajak Orang Lapar Karya WS Rendra

 


AKSI PINTU 1 UNHAS



MAKASSAR, TKU - Hari Teater Sedunia diinisiasi oleh Institut Teater Internasional atau International Theatre Institute (ITI) pada 27 Maret sebagai momentum memperkenalkan esensi dan keindahan seni teater secara meluas di seluruh negara, hari teater ini juga selain menghibur juga memberikan edukasi melalui ruang diskusi dan pertunjukan yang dilaksanakan pada hari itu.

Memperingati hari teater sedunia ini, UKM Teater Kampus Unhas (TKU) menghadirkan teatrikal puisi “Sajak Orang Lapar” karya WS Rendra sebagai ulasan kritik dan terikat dengan nuansa Ramadhan di Taman Universitas Hasanuddin. Rabu, (27/03/24).

Aktor yang bermain adalah Akhdan yang menggunakan celana pendek putih dengan baju kemeja bergambar Wiji Thukul, Andi Fausiah dan Sitti Nurdiana menggunakan pakaian serba hitam sebagai simbolis burung gagak yang di identik dengan kelaparan dalam puisi tersebut. Sedangkan penggunaan baju Wiji Thukul diambil sebagai sosok yang melawan kediktatoran dengan rasa laparnya.

Properti yang digunakan terdiri dari meja roda, wajan, dan pattapi beras. Maksud dari penggunaan properti ini beragam: Meja sebagai ruang interpretasi terhadap kekuasaan atau kontrol terhadap diri sendiri dalam berbagai ruang diskusi, instansi, ruang dapur, dan sebagainya.

Wajan kosong sebagai penggambaran bunyi orang-orang lapar yang berdinamika dengan harapan-harapan semu.

Pattapi beras dengan isi kosong sebagai hasil kekayaan negara yang berasal dari masyarakat namun belum dapat dinikmati oleh masyarakat itu sendiri.

Akhan, seorang yang menggambarkan teatrikal tersebut mengatakan bahwa puisi karya WS Rendra ini sarat akan pesan-pesan kelaparan sebagai mati dan perbudakan logika sehingga kasus kekerasan sering terjadi karena permasalahan perut, juga sebagai indikasi perlawanan atas diri sendiri maupun kediktatoran.

"Saya membaca puisi ini dan memahami bahwa segala dosa metropolitan ini cikal bakalnya dari perut yang lapar. Itu juga mungkin yang coba diutarakan WS Rendra sebagai “penghalang ke Sorga-Mu” disela-sela baitnya” katanya.

Teatrikal ini puisi Sajak Orang Lapar ini dinilai sangat cocok ditampilkan saat Ramadhan sebagai esensi merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang berkelas ekonomi ke bawah. (adn/*)


1.16.2023

Dari Festival Teater Mahasiswa TKU: Potret Suram Negeri Ini

dok tku

ARSIP TKU- "Ibu, jika kau besok 'ndak pulang burung beranjak di halaman tak berhenti bernyanyi. Angin menebar amis darah dari jalan-jalan dan kau membaca sebuah nama tiba akan dikabarkan hilang. Tak usah cemas dan jangan menangis."

Usai membaca surat, ibu yang kini tua renta mengerutkan keningnya, sebagai pertama ia sedang cemas memikirkan anaknya yang pergi bermain. Meski cemas, namun ia tetap merelakan anakanya bermain, karena permainan anaknya adalah sebuah kemuliaan.

Ia pun meneruskan sulamannya, meski sekitarnya suara-suara tembakan diiringi tangisan terdengar membahana mengisi telingannya yang kini tidak peka lagi. Ternyata penyebabnya tak lain karena sekelompok orang-orang berpakaian hijau berusaha mengusik ketenangan anak-anak yang bermain. Mereka sepertinya berusaha untuk membungkam suara-suara yang dinilai dapat mengganggu stabilitas permainannya.

Dalam pencariannya, ia tertidur pulas dan berusaha dibawa ke dalam mimpi. Tapi, tiba-tiba secara tidak disangka-sangka, sosok pating yang sedari tadi berdiri pada satu level bergerak menuju ke arah orang yang pernah mengusik dirinya.

Usaha mereka hanya sebatas mengganggu mereka dalam mimpi, karena ternyata ia telah menjadi mayat gentayangan yang mati secara tidak wajar. Orang I yang diperankan Hari Bahru ternyata mati tertembak di ujung barat negeri ini, sedangkan orang II yang diperankan Hadist Badawi mati tertembak ketik sedang 'bermain' di bawah jembatan (Semanggi, red), sedangkan Ahmadi yang memerankan orang III mati setelah sebelumnya hanyut di sebuah sungai di kota ini usai melaksanakan permainan.

Gambaran singkat naskah Suara-suara dari Kosaster Unhas yang dipentaskan, Minggu, (27/8) di Taman Budaya Sulsel salah satu contoh betapa dibutuhkannya kesadaran bagi semua pihak bahwa selama ini sudah banyak yang terjadi kekeliruan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab. Padahal, kalau di dalami secara mendalam, kita ini berasal dari satu ibu, ibu pertiwi. Namun, jima memang keduanya tidak dapat bersatu, maka pertentangan akan terus berlangsung. Terbukti di endung cerita, sutradara menghadirkan adegan dari dua kelompok yang saling berbeda. 

Dalam konteks sekarang ini, ternyata tema yang ditawarkan Kosaster sangatlah tepat apalagi tata musik yang komandoi Muslim sangat membantu pementasan. Apalagi, ketika grup teater Embrio Unismuh, menawarkan sebuah kegelapan yang membingungkan lewat karyanya bertajuk Negeri karya A Ansar Agus dan Sutradara Haslinda. Betapa tidak selama pertunjukan berlangsung, yang dirasakan pemainnya, adalah kegelapan dan kerisauan.

Bahkan penonton pun dipaksa untuk menonton dalam kegelapan. Sehingga, jadilah tontonan menjadi ajang kegelisahan. Kegelisahan pemain terhadap negeri yang kini semakin suram juga dialami penonton seperti tontonan yang sering kita lihat di televisi mengenai keadaan negeri. Jangan kegembiraan, deritas pun sudah tidak mendapat tempat lagi di negeri ini. (m2-m4/wik/b)

FAJAR, Selasa, 29 Agustus 2000

FTMI: Suara-suara dari Taman Budaya

Dari Festival Teater Mahasiswa Makassar

dok tku


ARSIP TKU-Tiga sosok tubuh pucat diam bak patung batu. Bersusun tiga dan matanya tajam menatap ke depan. Di depannya seorang ibu tengah tenggelam dalam kesibukannya menyulam sebuah selendang. Sementara di sudut lain, seseorang komandan berseragam hijau sibuk memberi penerintah kepada dua anak buahnya untuk mencari suara-suara yang memekakkan teliga.

Sosok yang berasal dari kematian, dan dari tiga tempat yang berbeda. Meski terkesan sangat simbolik namun maknanya mengungkapkan, jika ketiga roh itu mewakili Aceh, Tragedi Jakarta, dan mahasiswa UMI yang tewas saat demokrasi beberapa tahun silam. "Bagaimana caranya kita dapat membantu ibu memperindah sebuah selendang. Kita di alam lain. Semoga anak-anak penerus itu lahir dan dapat membantu ibu memperindah sebuah selendang," ujar mereka.

Sebelum berlalu, ketiga sosok kaku itu memberi mimpi buruk dan suara-suara aneh pun menggema memekkan telingan. Dan, akhirnya, kebatilan dapat dikalahkan oleh kebaikan. Leher sang komandan pun harus rela dikait dengan sarung-sarung anak negeri, pemberian sang ibu pertiwi. 

Dari dialog dan ekspresi tubu yang ditampilkan oleh Kelompok Sastra dan Teater (Kosaster) Unhas ini ingin seakan ingin mengungkapkan sebuah masalah yang sampai saat ini belum diselesaikan. Judul 'suara-suara" garapan sutradara M Hadis Badui SS merupakan salah satu peserta dalam Festival Teater Mahasiswa Se Sulawesi Seelatan yang diselenggarakan oleh Teater Kampus Unhas (TKU).

Penampilan lain Teater Embrio dari Universitas Muhammadiyah Makassar (UMM), menampilkan kegelapan dan suara-suara serta nyal senter di atas panggung. Seorang wanita yang dibalut kegelisahan, ketakukan dan senantiasa memasang telingannya saat mendengar suara-suara yang mendekatinya. Kasak-kusuk dan berdialog sendiri dalam kesunyiannya di sebuah negeri yang tak pernah ia inginkan. Tapi, ia tetap di sana. Sampai seorang miskin datang menawarkan bantuan. Ia terdampar ke negeri kegelapan itu karena orang kepercayaannya justru mencabik-cabik dirinya.

Dia yang selama ini memberi keturunan dan memberikan keteduhan justru dicampakkan. Tapi ada daya, sang wanita dalam gelap itu pun menendangnya. "Pergilah ke perbatasan," ujar sang wanita.

Beraksi di atas pentas tanpa menampakkan sosok dan ekspresi pemain secara gamblang membuar penonton di aula Taman Budata, harus jeli memasang mata dan telinga untuk memaknai setiap adegan yang disuguhkan. Sutradara Embrio yang memberikan titel Negeri Bayangan ini tampaknya ingin bereksperimen berteater tanpa lighting yang memadai.

"Cerita bertutur bagaimana kita sekarang, berada dalam kegelapan, kesuraman. Sehingga diperlukan, kejelian mata untuk melihat," ungkap Rica saat dialog antar sutradara dengan penonton.

"Dalam pementasan teater, ekspresi itu sangat diperlukan, semestinya lampu senter lebih kuat, sehingga menampilkan sosok dan ekspresi lebih nyata," uuar Syahriar Tato yang turut menikmati pementasan tersebut. Kalau tidak ada aral, malam ini seni teater mahasiswa, Makassar dari TKU dan UNM akan manggung (ang/yk/C)

Ujung Pandang Express, Minggu, 27 Agustus 2000


FTMI: Talas dan Panser, Tampilkan 'Wajah' Sesungguhnya

 Dari Festival Teater Mahasiswa di Taman Budaya 

dok tku


ARSIP TKU-Menjadi anak negeri memang tidak mudah, apalagi kalau hidup ini hanya dimanfaatkan untuk diri sendiri tanpa memikirkan orang lain di sekitarnya. Karena hidup ini adalah saling ketergantungan.

Dalam Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) Sulsel yang digelar TKU Unhas di aula Taman Budaya Sulsel Jumat (25/8) lalu ini menampilkan dua grup teater kampus. Meski berasal dari kawasan yang sama yakni teater kampus, tapi dalam hal karya sangat berbeda, terutama dari segi tema yang ingin disampaikan kepada khalayak.

Tilik saja misalnya pertunjukan eksperimental bertajuk Anak Iblis yang ditampilkan UKM Seni Budaya Talas Unismuh, terlihat ada kesungguhan untuk menggali lebih dalam lagi tentang tema yang ingin disampaikan kepada semua penonton.

Dalam cerita, si penulis naskah, Abidin Wakur menghadirkan dua sosok manusia, Beddu dan Rohana yang merupakan tokoh utama dalam cerita tersebut. Manusia desa adalah gelar yang cocok untuk keduanya, karena dalam adegan digambarkan kalau mereka seakan-akan tidak tahu-menamu dengan keadaan kota yang sebenarnya. Tapi dengan segala keberanian yang disandangnya, mereka berdua barangkali entah dengan maksud apa-apa.

Sejak kecil, di dalam keluarganya ia senantiasa dididik untuk taat beragama. Tak heran jika azan maghrib tiba, keduanya diwajibkan untuk berangkat ke mesjid. Mesjid baginya pada waktu itu, merupakan tempat menautkan pikiran dan perasaannya. Hari-hari indah itu pun mereka lewati berdua dengan segala kebahagiaan.

Tampaknya keduanya terpengaruh dengan pepatah yang mengatakan, "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina" yang membuatnya harus melanjutkan sekolah di kota yang tidak pernah dikenalinya sama sekali.

Namun saat menginjak kora, ia sama sekali tidak menyangka kalau "benteng" jiwa yang selama ini kuat harus jebol. Ternyata hidupnya harus berhadapan dengan sejumlah modernisasi  yang membuat dirinya terbius dalam buaian pergaulan kota. Awalnya memang coba-coba, tapi kemudian ia tidak sekadar menjadi kebiasaan, akan tetapi lambat laut menjadi kewajiban. Seperti wajibnya ai menunaikan shalat lima waktu. Masya Allah!

Menjadi berandal kota memang bukan cita-citanya dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Akan tetapi, tak dapat dipungkirinya kalau iman yang ada di dadanya tak kuasa menahan serangan kota yang tidak memikirkan siang malam perputaran roda waktu.

Karena kelakuannya, Beddu menjadi buronan polisi, sementara Rohana terjun ke dunia serba gelap. Sehitam dan sekelabu cita-citanya yang sirna oleh kejamnya kota.

Tapi, tidak disangka-sangka Beddu yang buronan polisi tersebuh tiba-tiba menjadi 'raja' alias memimpin sebuah negara. Namun, lagi-lagi ia berbuat keteledoran, karena cara memimpinnya tidak disukai rakyatnya, karena ia dengan semena-mena memerintahkan rakyat.

Tapi semua itu tidak ada artinya dan tak akan pernah terjadi. Itu hanyalah mimpi belaka yang membuat dirinya terbuai dalam tidur yang panjang. Dan memang seperti itu, ia lebih memilih mati dalam kesendiriannya daripada terus diburu oleh bayangannya sendiri. Bayangannya yang bisa membunuhnya secara perlahan. Sementara itu, Rohana berhasil selamat dengan bantuan seorang kyai.

Pada pementasan kedua, teater panser UMI menampilkan "Sketsa garis Miring" yang banyak bercerita tentang anak pertiwi yang sudah kehilangan kemampuan untuk berjuang. Menurutnya, dunia ini telah kotor dengan penuh intrik dan trik dan tidak jarang cara-cara kotor juga digunakan untuk menindas kaum yang paling bawah.

Bahkan sang sutradara mematikan ibu pertiwinya sendiri yang kemudian menerbangkannya ke dalam dunia lain sembari menatap merah putih yang semakin hari semakin lusuh dan sakit. Naskah ini ditulis dan disutradarai sendiri oleh Mursyiddin Albin SS.

Penampilan kedua pementas malam itu, secara garis besarnya belum tergarap secara serius. Pasalnya masih ada hal-hal yang sifatnya teknis, seperti artikulasi, pengadengangan, mimik, dan artistik yang belum memadai dari kedua peserta. Meskipun demikian, itulah usaha mereka untuk menampilkan satu ciri teater mahasiswa. Namun, entah siapa yang akan memberi nama bahwa inilah teater mahasiswa. Namun perkataan tersebut tidak sampai di sini karena masih ada lima peserta yang akan tampil hingga 31 Agustus mendatang. (m2)

Harian Fajar, Sabtu, 26 Agustus 2000


12.26.2022

Tujuh Teater Mahasiswa Berlaga di FTMI

 


Malam Ini di Aula Taman Budaya Sulsel 

Meski pelaksanaannya sempat tertunda beberapa kali, akhirnya Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) Sulsel dapat juga terlaksana. Hal ini terlihat setelah panitia menggelar technical meetong dengan peserta festival di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Selasa, (22/8) lalu.

Pada festival ini, dipastikan tujuh grup teater akan tampil dan saling berkompetisi di ajang yang baru pertama kali di gelar di Sulsel ini. Ketujuh grup teater yang akan mengambil bagian dalam ajang tersebut antara lain, Teater Talas, Sanggar Embrio (Unismuh), Teater Paser, Teater Kabut (UMI), Kosaster (Unhas), Teater Kampus Unhas (TKU), dan Sanggar Seni Budaya (UNM).  

Malam ini, merupakan hari pertama dimulainya festival yang rencananya dibuka Rektor Unhas, Prof Dr Rady A Gani. Dan untuk penampilan malam pertama, dua grup teater akan tampil memperlihatkan kebolehannya di atas panggung bebas ekspresi tersebut.

Teater Talas dari Unismuh misalnya, akan menampilkan naskah berjudul Anak Iblis. Naskah ini dimainkan enam orang, sedangkan naskah tersebut ditulis dan disutradarai sendiri Abidin Wakur.

Sementara itu, Padepokan Seni Sastra (Panser) UMI akan menampilkan karya Syamsuddin Simmau SS berjudul Sketsa Garis Miring. Judul tersebut tentunya sangat menarik, karena memang hidup ini ibarat sebuah garis miring yang penuh dengan intrik dan taktik seperti yang tertera dalam sinopsis naskah tersebut.

Ketua panitia FTMI Sulsel, Muh Zuhdy Hamzah kepada Fajar kemarin mengungkapkan bahwa pada awalnya festival ini akan diikuti sebelas grup teater mahasiswa yang ada di Makassar ini, akan tetapi dalam technical meeting yang hadir hanya tujuh grup teater. "Persiapan kami telah cukup, dan mudah-mudahan pada pelaksanaan yang akan mulai besok malam (malam ini, red), dapat terlaksana dengan baik," katanya. (m2/wik/b)

SUMBER; Harian Fajar, Jumat, 25 Agustus 2000


ARSIP 2000: Festival Teater Mahasiswa Se-Sulsel


Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kampus Unhas (TKU), Agustus mendatang akan melaksanakan Festival Teater Mahasiswa Indonesia se-Sulawesi Selatan. Bentuk kegiatan ini berupa pementasan naskah cerita serta diskusi seni dan sastra dengan pembicara Mochtar Pabotingi.

Menurut Ketua TKU, Amri Gallang, tujuan diselenggarakannya festival ini untuk memberikan kesempatan kepada pelaku kesenian kampus guna mementaskan hasil karyanya. Di samping itu, kegiatan ini diharapkan pula dapat menjalin komunikasi yang harmonis antara pelaku kesenian kamous dengan mahasiswa pada umumnya dan para pemerhati seni yang ada di Sulsel. 

Dikatakan, cerita sebagai sarana ekspresi, dapat dijadikan media dalam mengemukakan ide seorang atau suatu kelompok masyarakat terhadap penangkapannya terhadap fenomena masyarakat.

Media cerita menjadi alat ekspresi yang khas tentang derita duka dan bencana yang terjadi di sekitar kita.

Selain itu kegiatan bertema, Abadikan Hidup dengan Karya, merupakan respons atas segala peristiwa untuk dikisahkan kembali dengan sebuah kemasan yang lain. Kondisi ini yang coba ditangkap TKU selaku panitia pelaksana.

Dalam teknis pelaksanaannya, panitia tidak membatasi jumlah pemain pendukung pementasan masing-masing grup, dan pementasan sendiri diberi waktu 50 menit. Penilaiannya sendiri didasarkan pada putusan dewan juri yang jumlahnya tiga orang dan sifatnya mutlak serta tidak dapat diganggu gugat. Unsur-unsur yang dinilai yaitu, sutradara, tokoh utama (pria/wanita), tokoh pembantun (pria/wanita), penata artistik, penatas musik, dan penata cahaya.

Panitia dalam festival ini juga hanya menyediakan properti pementasan berupa traf, lighting, layar hitam, dan sound system. Untuk biaya produksi dan pementasan, ditanggung masing-masing grup. Dan grup yang berhak mengikuti festival ini adalah grup yang diundang panitia dan mendaftarkan diri. Jika tidak mengikuti technical meeting, grup dianggap mengundurkan diri.

Grup yang memperoleh kategori terbanyak akan keluar sebagai grup terbaik. Hal-hal yang belum ditentukan, akan dibicarakan pada saat technikal meeting, 23 Agustus 2000 di Aula PKM Unhas, Lt. II (m4/wik/b) 

SUMBER: Harian Fajar, Senin, 24 Juli 2000

ARSIP 2000: Festival Teater Mahasiswa Indonesia Se Sulawesi Selatan




FTMI DI UNHAS. Teater Kampus Unhas (TKU) akan menggelar Festival Teater Mahasiswa Indonesia Se Sulawesi Selatan. Menurut Ketua Pelaksana, M Zuhdy kepada Fajar kemarin mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kreavitas seninam-seniman kampus dalam berkarya. 

Dalam ajang ini, telah dipastikan sepuluh grup teater mahasiswa dan akan berlangsung dari 25-31 Agustus di Aula Taman Budaya Sulsel Jalan Jenderal Sudirman. Kesepuluh grup tersebut antara lain: Teater Panser, Teater Kabut (UMI), UKM Seni Budaya (UNM), Teater Talas (Unismuh), Kosaster, TKU, Embrio (Unhas), Teater Universitas Sawerigading, Teater 45, dan Teater UNM. (u2)

SUMBER; Harian Fajar, Minggu, 20 Agustus 2000


12.19.2022

TKU Pentaskan “Aktor-aktor yang Tersesat dalam Drama Tanda Tanya”, Ada Konflik di Balik Panggung

Para Pemain

TKU-Satu jam lagi pentas akan dimulai. Sutradara tak kunjung datang. Para aktris sudah menunggu lama di panggung. Penonton juga akan segera datang, tetapi para aktris ini bingung nasib pertunjukannya.

Mereka berdebat. Ada yang mau merombak naskah atau membuat naskah baru. Konflik-konflik ini menjadi suguhan pertunjukan di Gedung Pertemuan Alumni (GPA) Unhas, Senin, 28 November malam ini.

Adegan itu merupakan pentas Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kampus Unhas (TKU). Pertunjukan kali dengan mengangkat naskah “Aktor-aktor yang Tersesat dalam Drama Tanda Tanya”. Naskah yang ditulis Irwan Jamal disutradarai Aan Halim Aras.

Sutradara Aan Halim Aras

Sutradara Aan Halim Aras mengatakan, memilih naskah aktor-aktor tersesat karya Irwan Jamal dalam pementasan Dromapora karena naskah tersebut memiliki makna yang dalam. Utamanya dalam memahami dunia keaktoran. “Menjelaskan bagaimana aktor itu yang sebenarnya,” ujar anggota TKU ini.

Mahasiswa Sastra Daerah Unhas ini menyampaikan, naksah ini hendak memperlihatkan proses pentas teater di belakang panggung, dan konflik-konflik yang terjadi di atas panggung. “Itu merupakan permasalahan yang 

tidak jarang terjadi ketika pentas teater ingin di mulai,” ungkapnya.

Proses yang dijalani dalam penggarapan produksi Dromapora ini berjalan selama kurang lebih tiga bulan. “Dimulai dari casting aktor, reading naskah, penggambaran, hingga pada dua minggu terakhir di lakukan pemantapan penggambaran dan aktor yang bermain dalam pementasan dromapora ini ialah para calon anggota baru Teater Kampus Unhas,” tuturnya.

Pemimpin Produksi Dromapora, Muhaiminah Khairati Azis mengatakan, penamaan Dromapora ini sebagai bentuk perwujudan kreasi dan ekspresi untuk agenda akhir dari proses penerimaan calon anggota. “Kami mengangkat tema Euforia Mengungkapkan Rasa,” jelasnya.

Dromapora ini kata Ratih sapaan mahasiswa angkatan 2021 ini, memberikan sebuah sajian sederhana namun eksotis dari para calon anggota. “Penggarapan ini dilakukan selama kurang lebih tiga bulan dengan kerja keras dari kami. Potensi dari kami dan nilai-nilai TKU merupakan DROMAPORA sebagai hasilnya,” pungkas mahasiswa Sastra Indonesia Unhas ini.

Adapun para pemeran berasal dari pelbagai Fakultas di Unhas. Heriyanti (Erin) jurusan Kedokteran Hewan, Andi Khaeria (Ria) jurusan Fisioterapi, Sabila Syahwa Insani (Sabil) jurusan Ilmu Komunikasi, Besse Nurfaddhillah (Beslah) jurusan Kedokteran Hewan, dan Inayah Amaliah Mutmainnah (Nayya) jurusan Sastra Asia Barat. Ada juga Falda Salsabilah (Falda) jurusan Kedokteran Hewan, Muhaiminah Khairati Azis (Rati) jurusan Sastra Indonesia, dan Bertilia Tuto Ola (Lili) jurusan  ilmu Aktuaria.

Kemudian para penata, Nayya sebagai penata bunyi. Aan dan Adrian sebagai penata lampu. Lili, Beslah dan Rati sebagai penata artistik. Nayya, Sabil, Erin, dan Ria sebagai penata kostum.

“Sebagai pimpinan produksi, ini adalah pertunjukan pertama saya dan merupakan kali pertama saya menjalankan sebuah penggarapan,” jelas Ratih. (ham/*)


28 November 2022

https://harian.fajar.co.id/2022/11/28/tku-pentaskan-aktor-aktor-yang-tersesat-dalam-drama-tanda-tanya-ada-konflik-di-balik-panggung/


Melingkar Sebelum Pentas

Diterima sebagai Keluarga TKU


ARSIP FTMI 2000: Rektor yang Wakili Dekan



Menghadiri sebuah pentas seni bagi seorang rektor tidaklah mudah, apalagi dengan berbagai masalah yang dihadapi baik di dalam maupun di luar kampus. Adalah Rektor Unhas Prof Rady A Gani yang menyempatkan waktunya untuk hadir dan menonton pertunjukan teater yang dikemas Teater Kampus Unhas dalam Festival Teater Mahasiswa Indonesia Se Sulsel di Taman Budaya 25-29 Agustus.

Tapi jangan heran kalau Rektor Unhas ini hadir di acara-acara kesenian, karena berbagai acara kesenian yang diadakan di kampus Unhas, dia jarang absen.

Tidak hanya itu, ternyata mantan Bupati Wajo ini juga dijadwalkan untuk buka acara festival tersebut. Dengan gayanya yang khas tanpa teks, Prof Rady mengawali kata sambutannya. Namun, ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Rektor Unhas ini. Apakah itu?

Ternyata ia hadir juga mewakili depan fakultas sastra yang memang tidak hadir pada saat itu, meskipun acara ini dilaksanakan oleh Teater Kampus yang berada pada level univesitas.

Meski demikian, kata-katanya mengalun seperti seniman. Bahkan ketika ditanya usai menyaksikan pertunjukan, dirinya sangat antusias menyaksikan karya mahasiswa. Bahkan kata dia, dari awal dirinya sudah berupaya untuk memancing kreativitas seniman-seniman kampus untuk lebih meningkatkan karya keseniannya. "Ya tentunya dengan segala keminimalannya," katanya.

Seni itu menurutnya merupakan salah satu unsur yang sangat penting, bahkan ia merupakan penyejuk nurani. "Apalagi sebagai seseorang akademisi harus disertai dengan kesenian, karena kalau tidak pekerjaan biasanya terbengkalai," kilahnya.

Dirinya juga sangat menghargai seniman-seniman kampus Unhas yang dengan segala kekurangan baik dari segi prasarana maupun material bisa melaksanakan acara sebesar ini. (m2/fis/b)

Harian FAJAR, 29 Agustus 2000

Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) Se Sulsel diselenggarakan kali pertama Teater Kampus Unhas pada tanggal 25-29 Agustus 2000 di Aula Taman Budaya Sulawesi Selatan, Makassar.


10.31.2022

TKU Wakili Unhas ke Festamasio Banten, Wacana Teaternya: Ujian Pemimpin Bawa Kelompoknya Keluar dari Krisis

FOTO: Muizzu Khaidir

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kampus Unhas (TKU) menjadi perwakilan Universitas Hasanuddin (Unhas) ke ajang Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) 10 Banten. Event nasional teater dua tahun sekali ini diselenggarakan UKM Teater Kafe Ide Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, pada 7-13 November 2022.

Ada sepuluh pementas yang akan menyajikan pertunjukan teater pada ajang festival teater yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2001 di Teater Yupa Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda itu. UKM TKU salah satunya.

TKU mementaskan naskah “Gaung”. Naskah itu ditulis Annisa –merupakan mantan Ketua TKU yang juga mahasiswa Sastra Indonesia. Naskah itu disutradarai Wilianti Eka Putri –mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian.

Pemimpin Produksi TKU, Maisyarah Djamade menjelaskan, untuk lolos ke Festamasio itu melalui proses seleksi yang ketat. Tim melakukan pengambilan gambar teater secara utuh, kemudian diseleksi secara nasional oleh juri yang ditunjuk panitia. Video ini diunggah di kanal YouTube lembaga masing-masing dengan batas kurasi 7 Oktober.

Adapun jurinya dari sutradara-sutradara teater yaitu, Dendi Madiya, Bambang Prihadi, dan RA Yopi Hendrawan Utoyo. Akhirnya pengumuman pada 10 Oktober, TKU dinyatakan lolos.

“Kami berproses dari awal, membuat naskah sendiri dan mengambil gambar. Proses ini sudah berjalan tiga bulan. Itu mulai dari penggarapan naskah hingga proses casting dan latihan,” ujar mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ini.

Mahasiswa angkatan 2021 ini menyebutkan, dalam proses latihan penggarapan naskah beberapa kali melakukan perbaikan. Termasuk perubahan serta penambahan pemain. “Inilah proses. Kami berharap dalam penggarapan ini semoga orang yang menonton pertunjukkan GAUNG ini dapat mengambil hal positif,” jelas perempuan yang menjadi aktris utama pada pertunjukan “Dalih” di FTMI Bone, Juni lalu.

Sutradara “Gaung” Wilianti mengatakan, keikutsertaan TKU di Festamasio sebagai upaya menjaga ekosistem kesenian teater kampus secara nasional. Apalagi, TKU pernah menjadi penyelenggara Festamasio ke-2 pada tahun 2003.

Keterlibatan Wily –sapaannya, pada garapan “Gaung” yang kedua untuk ajang Festamasio. Saat Festamasio ke-9 Teater Sisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan tahun 2019, Wily hanya sebagai aktor di teater “Orang-orang Pendek”.

“Jadi proses yang cukup panjang menjadi sutradara, dari aktor ke asisten sutradara ‘Dalih’, lalu garapan ‘Gaung’ untuk tahun ini,” tuturnya.

Teater “Gaung” penuh adegan simbolik. Zaman krisis ekologi –hujan tak kunjung turun dan kekeringan yang berkepanjangan. Orang-orang yang putus asa berharap jalan keluar. Di tengah kondisi itu, kepemimpinan yang diuji. Masalah yang dihadapi suatu kelompok itu tak kunjung mendapatkan penyelesaian, meskipun terjadi pergantian pemimpin.

Pemimpin pertama rela meletakkan jabatan, jika ada pemimpin yang bisa menyelesaikan masalah yang mendera. Namun, bukan pemimpin sebenarnya yang didapatkan, justru pemimpin yang terpilih hanya memperdayai kelompok itu.

Krisis tak berlalu. Orang-orang mulai panik –gemetaran dan menggaruk-garuk tumbuhnya karena serangan wabah. Yang pada akhirnya, kelompok tidak bisa keluar dari masalah yang dialami.

“Pimpinan baru datang dengan membawa harapan, tetapi diperoleh dengan politisasi untuk menggulingkan sebelumnya. Jabatan dikejar dan diperoleh, namun masalah tidak selesai. Pada akhirnya kawanan terkatung-katung,” ungkapnya.

Bagi Wily, dua makna yang bisa dilihat. Pertama, pemimpin bukanlah soal cara meraih kekuasaan, tetapi pemimpin yang hadir di tengah kelompok dan punya kematangan berpikir, serta visi yang jelas untuk membawa perubahan di kelompoknya.

Kedua, masalah krisis ekologi yang dialami itu, tak bisa melihat zaman krisis itu terjadi. Akan tetapi harus menarik ke zaman-zaman sebelumnya. Apakah kebijakan-kebijakan pemimpin yang dahulu sangat ramah dan pro terhadap lingkungan?

“Jangan sampai kita berpikir krisis yang berkepanjangan itu baru kita sadari setelah semuanya sudah habis,” tuturnya.

Sebelumnya TKU melaksanakan uji coba pertunjukan di Gedung Pertemuan Alumni Unhas, Minggu, 30 Oktober malam, pukul 20.30 Wita. Pentas itu juga dihadiri sejumlah warga TKU. Hadir pula Salahuddin Alam yang merupakan Direktur Eksekutif PP IKA Unhas dan Anno Suparno dari Kabar IKA dan wartawan senior, serta senior TKU, Saharuddin Ridwan.

Naskah “Gaung” akan kembali dipentaskan Selasa, 1 November pukul 16.00 WITA di Gedung Pertemuan Alumni Unhas. Pentas dengan penonton terbatas. Ketua UKM TKU, Rezky Ramadhan Rusdi mengatakan, pelepasan itu diundang UKM-UKM se Unhas dan pejabat kampus. “Kami berharap bisa dilepas oleh Rektor Unhas atau WR Bidang Kemahasiswaan,” jelasnya. (FAJAR, 31 Oktober 2022)

6.16.2022

Pertunjukan “Dalih” Teater Kampus Unhas, Kritik dari Upaya Mereka yang Menutupi Keburukannya






UKM Teater Kampus Unhas (TKU) mementaskan teater “Dalih” pada Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XVI Bone. Festival yang dilaksanakan UKM SSB BSF IAIN Bone pada 9-18 Juni. TKU mementaskan teater “Dalih” di Planet Cinema Bone, Selasa, 14 Juni.

Sebuah pertunjukan dari naskah dan disutradarai, Annisa Effendi. Adapun tim TKU yang berangkat ke FTMI yaitu, Wilianti Eka Putri, Andi Marwati Aldina, Mutmainnah, Adrian Saputra, Sakinah Indah Pratiwi, Ana Jurana, M. Ridwan, Bella Maharani, Resky Ramadhan Rusdi, Maisyarah Djamade, dan Zalzabila.

Sutradara Dalih, Annisa Effendi mengatakan, pada mulanya, naskah ini berawal dari diskusi kecil yang kemudian memunculkan ide besar terkait korupsi.

“Dalih” dipilih menjadi judul naskah sekaligus nama untuk tokoh utama karena kata itu dianggap mewakili eksistensi dari ide yang ingin dibawakan. Dalih juga merupakan tokoh dalam naskah teater tersebut.

“Dalih merupakan seorang kepala daerah sekaligus anak dari seorang gubernur yang terkena kasus korupsi. Ayahnya yang tidak ingin nama baiknya tercoreng membuat strategi, agar Dalih tidak di penjara dengan mengurung dan membuatnya gila serta melakukan kongkalikong dengan orang-orang yang dianggap mampu membenarkan kegilaan Dalih seperti seorang dokter dan jurnalis,” kata Nisa sapaan mahasiswa Sastra Indonesia Unhas ini.

Strategi itu pun kata Nisa berhasil, Dalih tidak di penjara karena ia mengalami gangguan kejiwaan. Selama Dalih dijadikan gila, ia menjadi tertekan dan merasa bahwa lebih baik ia di penjara daripada dibuat gila oleh ayahnya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, selama berada di pengurungannya, Dalih mengalami konflik batin sehingga memunculkan suara-suara di kepalanya yang diwakili oleh Tokoh A dan Tokoh B. “Setelah melewati pergulatan panjang dengan dirinya sendiri serta dengan situasi yang ia alami, pada akhirnya, ia benar-benar menjadi gila,” tuturnya.

Bagi Nisa, pesan yang ingin disampaikan yakni, ide yang diangkat dalam naskah dan pertunjukan ini sangat dekat dengan kita dan bisa terjadi kapanpun, di manapun, dan oleh siapapun. “Ini tidak kita duga untuk berdalih atau mencari alasan dalam menutupi suatu keburukan,” ungkapnya.

Terkait teknis pertunjukan, menurut Nisa, pertunjukan ini berupaya untuk menerobos dinding ke empat antara pemain dan penonton. “Dalam artian kami ingin memutus keterhanyutan penonton, sehingga membuat penonton menyadari bahwa ini hanya sekadar pertunjukan. Setelah keluar dari gedung pertunjukan ada proses berpikir yang mereka alami,” bebernya. (FAJAR, 16 Juni 2022)


Pada FTMI ini ada 15 peserta asal Sulselbar yang menampilkan pertunjukannya sebagai berikut:


UKM Bunga Kodza STAIN Majene

UKM Teater Kampus Unhas

Titik Dua UKM Seni UNM

Lentera HMJ Bahasa Inggris FBS UNM

Biseru 17 Parepare

UKM Seni Katarsis Politeknik LP31 Makassar

UKM Sedaya Mamuju

Perseroan Seni Akuntansi HMA FE Unsulbar

LSBM Estetika UIN Alauddin

Bengkel Sastra Dema JBSI FBS UNM

UKK Seni Sibola IAIN Palopo

SPaSI IMSI KMFIB Unhas

BKMF Teater Kampus FSD UNM

BKMF DE ART Studio UNM

UKM Seni Pandaraq, Sulbar

12.04.2019

Lakon Penuh Intrik


Pertunjukan Orang-orang Pendek

OLEH: 
Burhan Kadir

Dosen FIB Unhas dan Pembina UKM Teater Kampus Unhas
“Orang-orang Pendek” dari Universitas Hasanuddin Makassar beraksi di Taman Budaya Sumatera Utara
Delapan orang perempuan bertandang ke Medan dengan membawa enggran. Tujuh aktris dan seorang sutradara, mereka melakukan pertunjukan teater, 19 November 2019 pukul 16.00 WIB di Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan. Perintis Kemerdekaan No. 33, Gaharu, Medan Tim, Kota Medan Sumatera Utara.
Tim TKU
Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) IX adalah tajuk kegiatan yang membawa perempuan-perempuan tangguh Universitas Hasanuddin ini menjajal panggung pertunjukan tanah Melayu Deli. Festamasio adalah ajang bertukar pengetahuan para pekerja seni kampus nusantara, khususnya bidang teater. Meskipun semangatnya adalah menjadi sang juara, namun sebagai pekerja seni kampus, sharing karya atau diskusi pementasan tetap menjadi kekuatan ajang kompetisi perteateran mahasiswa Indonesia ini.
Sebanyak 12 kelompok teater hadir mewakili kampus. Mereka masing-masing: Teater Teater Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, GSSTF Universitas Padjajaran Bandung, Teater Yupa Universitas Mulawarman, Teater Batra Universitas Riau, Teater Gabi Universitas Sriwijaya Palembang, Teater Syahid UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Teater GBB  Universitas Sultan Agung Tirtayasa Banten, Teater Cafe Ide  Universitas Sultan Agung Tirtayasa Banten, Teater Tiyang Alit Institut Teknologi 10 November Surabaya, teater Institut Surabaya Universitas Negeri Surabaya, dan dari Makassar hadir Teater Titik Dua Universitas Negeri Makassar serta Teater Kampus Universitas Hasanuddin.
Adapun panitia pelaksana Teater Sisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menerapkan sistem kurasi. Para kelompok teater mengirim video pertunjukkan mereka yang nantinya dipentaskan saat festival berlansung. Ada 25 video pertunjukkan yang panpel terima, kemudian dewan jurinya yakni; Yondik Tanto dari Medan, Haris Priyadi dari Jakarta, Imam Soleh dari Bandung. Dari kurasi meloloskan 19 kiriman video dari 25 kelompok teater mahasiswa. Namun, hingga kegiatan ini terlaksana hanya 12 kelompok teater yang hadir dan mementaskan karya-karya mereka. Mungkin ke-7 kelompok teater mahasiswa yang tidak hadir terkendala biaya pertunjukan ke Medan Sumatera Utara. Karena dari segi kesiapan untuk pentas tak diragukan lagi sebab mereka telah mengirimkan video pertunjukan.
Ada yang menarik dari dua kontestan dari Makassar, Teater Titik Dua Universitas Negeri Makassar dan Teater Kampus Universitas Hasanuddin. Mereka masing-masing menggunakan bambu sebagai properti yang menghidupkan pertunjukan mereka.
Bambu bukan hanya menjadi properti namun juga menjadi simbol kehidupan, kebenaran serta kekuatan manusia-manusia dari golongan masyarakat dari kelas yang dikuasai. Masyarakat yang menjadi korban dari segala siasat penguasa dan pengusaha negeri ini. Bambu adalah bahan murah, tumbuh di desa yang menjadi alat penyambung hidup masyarakat pedesaan, mencari sumber makanan, menjadi pagar, penghalang binatang buas masuk ke rumah-rumah mereka.
Namun selain bambu, Teater Kampus Unhas juga menggunakan plastik untuk kostum mereka yang berwarna-warni. Simbol plastik ini adalah sebuah kepalsuan sengaja digunakan sebagai bentuk kontradiktif dari bambu. Sedangkan warna-warni dari kostum itu sebagai penguat karakter tiap tokoh dalam cerita tersebut, seperti warna merah tanda dari sebuah kemarahan, biru ketenangan, kuning adalah tanda progresif, visioner, hijau adalah sikap yang labil tidak mempunyai pendirian, warna pink menandakan kesenangan, dan orange dengan karakter menolak perubahan, menandakan kemapanan pada kondisinya saat ini.
Sebagai sebuah properti, Teater Kampus Unhas (TKU) menjadikan bambu sebagai alat permainan tradisional, Enggran. Permainan masa kecil yang penuh dengan canda tawa, sebuah kebahagian. Akan tetapi, saat Enggran ini berjalan di atas panggung maka tidak hadir sekadar sebagai media hiburan namun juga sebalai alat kritik.
MELINGKAR DAN BERDOA
TKU pada ajang Festamasio ini mementaskan naskah “Orang-orang Pendek” karya Astrid, mahasiswa Fakultas Hukum dan sebagai sutradara Arlinda Verawaty mahasiswa Fakultas Teknik Unhas. Durasi pertunjukan 45 menit dengan menggambarkan kehidupan orang-orang pendek secara pemikiran, semangat, dan bahkan kelakuan dengan segala intriknya.
Pemikiran pendek tentunya akan melahirkan kelakuan yang pendek pula. Tak ada pikiran tentang imbas dari apa yang telah dilakukan. Pokoknya lakukan saja dahulu, salah belakangan. Pikiran pendek terkadang lahir di sekeliling kita, yang memicu tawuran, yang memicu pencurian bahkan yang memicu seseorang berbuat amoral seperti korupsi. Ini bukan tentang setinggi mana deretan ijazah seseorang sebab pikiran pendek menjebol pikiran dan hati kita hingga tecermin pada apa yang akhirnya kita lakukan.
Fenomena pikiran pendek terlalu banyak kita saksikan sekarang ini, mulai dari tawuran mahasiswa, pelajar, tawuran antar kampung, lorong. Pencurian ayam, celengan masjid sekalipun, uang cetak kitab suci, uang bantuan sosial hingga dana jamaah haji. Pelakunya hingga orang yang tak menempuh pendidikan, orang miskin hingga orang yang berderet titel akademiknya dan punya banyak rekening dan isi yang melimpah disaldo mereka. Pikiran panjang di sini bukan tentang seberapa canggih mereka berpikir agar melakukan itu semua tidak akan diketahui khayalak. Kelakuan itu lahir dari pikiran pendek mereka.
Pikiran pendek salah satunya lahir dari hasrat ingin mencapai sesuatu yang tinggi, suci, posisi, kewibawaan dari sebuah dari kehidupan yang disebut masyarakat sosial, struktur tertinggi secara sosial dan ekonomi. Menurut Pierre Bourdieu manusia memahami dan menilai realitas dan penghasil praktik-praktik kehidupan yang sesuai dengan struktur-struktur objektif, yang kemudian ada yang tempat yang diperebutkan yakni sebuah Ruang sosial. Ruang sosial adalah adalah lapangan bagi kekuatan dan usaha antara agen – agen yang memiliki cara dan tujuan yang berbeda. Lapangan ini dicirikan oleh “aturan permainan”, yang eksplisit maupun yang teratur secara sistemik. Karena lapangan ini dinamis, nilai-nilai yang membentuk modal kultural dan modal sosial juga dinamis dan arbitrer (dapat dipertukarkan).
Dalam meraih posisi pada ruang sosial ini, “aturan permainan” terkadang harus harus punya aturan permainan tersendiri. Modal ekonomi, Modal sosial dan modal kultural adalah kekuatan yang harus dimiliki bila ingin menempati ruang sosial yang tinggi, suci, punya power, dan kewibawaan. Lantas dalam mencapai itu tidak semua penghuni ruang sosial atau kelompok sebuah masyarakat mendapatkannya dari warisan kekayaan, warisan darah biru dan kemampuan untuk  memiliki ijazah tertinggi di dunia pendidikan. Terkadang cara mendapatkan modal itu tidak dengan cara mempertukarkan modal saja. Namun, lebih kepada menikmati jalan pintas memiliki keuntungan dari modal-modal tersebut.
Hal ini kemudian yang coba dihadirkan naskah Orang-Orang Pendek. Bahwa struktur sosial yang akhirnya menciptakan ruang-ruang sosial adalah hanya tentang sebuah perbedaan posisi dan kenikmatan yang ditawarkan posisi-posisi tersebut. Semakin tinggi posisimu maka semakin banyak kenikmatan, kekuasaan yang akan engkau dapatkan.
Lagi-lagi tidak semata tentang fungsi posisi tersebut, namun tentang kebanggaan, tentang berbeda dan lebih baik, yang ujungnya menempati ruang sosial hanya sekedar memperjelas dimana posisimu. Marxis menyebutnya sebagai ketimpangan antar kelas, karena ada yg menguasai dan dikuasai. Akhirnya segalah cara digunakan agar berada pada ruang sosial yang tinggi, sebuah golongan kelas yang menguasai.
Menggunakan properti bambu sekaligus sebagai simbol, alat untuk berada pada kelas menguasai, keluar dari citra orang-orang yang dikuasai. Persoalan cara mendapatkan ruang sosial kelas tinggi adalah nomor sekian intinya adalah berada pada ruang sosial impian tersebut.  Di akhir pertunjukan naskah Orang-Orang Pendek, enggran kemudian menjadi simbol mencapai posisi tinggi dengan bantuan alat menjadi tinggi. Enggran dimaksudkan sebagai alat instan untuk mencapai tempat suci dan tinggi itu.
Sebagai kelompok mahasiswa yang kemudian menjatuhkan pada seni pertunjukan untuk berproses sebagai mahasiswa dengan belajar melihat realita kehidupan lewat sudut pandang teater. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kampus Universitas Hasanuddin mengangkat tema human interest dalam penampilannya. Sebuah potret kehidupan yang lahir dari pengalaman-pengalaman mereka dari diskusi, membaca bahkan terlibat langsung dalam fenomena tersebut.
DISKUSI PEMENTASAN
Menyajikan pertunjukan dengan konsep teater alienasi. Membawa kesadaran pada dirinya hanya sebagai pemain teater yang berupaya memerankan sebuah tokoh. Ini terlihat saat salah satu pemain yang kemudian berdialog mengambarkan siapa dirinya dan fungsi dia sebagai perantara dengan penonton sambil memanggil dan meminta pendapat penonton.
Tentunya sebagai sebuah pertunjukan dan organisasi kemahasiswaan TKU pasti tidak pernah lepas dari fungsinya sebagai teater proses dan protes. Protes yang ditampilkan lewat pertunjukan teater dan harusnya menghadirkan solusi dan atau paling tidak hadir memberi pemantik kesadaran pada para audiesnya. Ini pula yang menjadi ciri dari teater alienasi tersebut, membuat penonton sadar bahwa mereka hanya sekadar menonton dan menghibur diri lewat pertunjukan teater, tetapi sekaligus menciptakan buah pikir, sebuah pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang sedang mereka tonton.
Selamat kepada Teater Kampus Unhas yang telah menuntaskan lagi satu prosesnya berteater dan tugas sebagai lembaga mahasiswa. Sembilan bulan berproses bukan waktu yang lama, namun proses tersebut mendapat respons yang baik dari Pimpinan Universitas Hasanuddin, sebagai salah satu tujuan Universitas yang menciptakan generasi yang cerdas, handal, dan berbudaya tak hanya diperoleh dari bangku kuliah saja tetapi juga kegiatan-kegiatan kemahasiswaan seperti ini.
Lewat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof Dr. drg. A. Arsunan Arsin, M. Kes., selain akses tempat latihan, juga memberi bantuan delapan tiket PP Makassar-Medan untuk tujuh pemain dan satu sutradara. Harapan kita semua semoga ke depannya akan lebih baik lagi respons-respons pimpinan Universitas terhadap kegiatan-kegiatan kemahasiswaan hingga tak ada lagi peserta yang sudah dinyatakan lolos kurasi sebagai peserta tapi gagal hadir karena terkendala dana. Mungkin salah satu sebabnya karena pimpinan Universitas tidak melihat kegiatan ini sebagai kegiatan yang sangat penting untuk proses bermahasiswa para mahasiswanya dan mereka-mereka harusnya belajar dari Unhas. (*)




10.10.2019

AKTRIS ORANG-ORANG PENDEK

AKTRIS Teater Kampus Unhas (TKU) mementaskan naskah “Orang-orang Pendek” naskah Astrid, mahasiswa Fakultas Hukum dan sutradara Arlinda Verawaty mahasiswa Fakultas Teknik Unhas. Pementasan di Auditorium Prof Dr KH Sahabuddin Universitas Al Asyariah Mandar, Kamis, 10 Oktober pukul 16.00 dan 20.00 Wita. Pentas yang difasilitasi oleh UKM Kosaster Siin Unasman, Sulbar. FOTO ILHA 




FOTO-FOTO ORANG-ORANG PENDEK

Teater Kampus Unhas (TKU) mementaskan naskah “Orang-orang Pendek” naskah Astrid, mahasiswa Fakultas Hukum dan sutradara Arlinda Verawaty mahasiswa Fakultas Teknik Unhas. Pementasan di Auditorium Prof Dr KH Sahabuddin Universitas Al Asyariah Mandar, Kamis, 10 Oktober pukul 16.00 dan 20.00 Wita. Pentas yang difasilitasi oleh UKM Kosaster Siin Unasman, Sulbar. (FOTO SASTRA ILO/TKU)









10.23.2018

Tampil Gemulai Layaknya Seorang PSK

adegan becak lambat

Menyaksikan Teater "Becak Lambat"

Suara lelaki terdengar lantang di dalam ruangan, memecah keheningan. "Jangan kau jual murah lubang kencingmu". 

BEGITULAH sepenggal kalimat yang keluar dari mulut aktor "Becak Lambat" Teater Kampus Unhas (TKU)  di dalam aula SMAN 10 Makassar dalam ajang Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XIV se-Sulselbar oleh Komunitas Seni Adab (Kissa) UIN Alauddin Makassar, Selasa, 23 Oktober, dua hari lalu. https://www.youtube.com/watch?v=Ts5SfXG0npc&t=129s

Saat itu, pencahayan belum dinyalakan. Beberapa pengunjung yang masih sibuk dengan gawainya, tersentak. "Mulai mi," bisik pengunjung perempuan di depan saya. 

Alunan musik pun mulai terdengar. Sepotong lagu, "Garring Apai Nona". Tak lama. Sekitar satu menit, lalu lampu dinyalakan. Pencahayaannya dipusatkan di satu titik, panggung teater. 

Penonton pun melihat, seorang perempuan berpakaian ketat duduk di atas becak. Becak itu bergerak lambat. Didorong seorang tukang becak. Perempuan dan tukang becak saling mengoda.

Begitulah, mereka memulai. Dua aktor lainnya masuk melenggok. Gerakan pinggulnya membuat penonton heboh.
 Tiga aktor perempuan keluar panggung setelah mendapat telepon. Entah, mungkin dari pelanggan.

Tersisa daeng si tukang becak. Dia bernyanyi dengan bahasa bugis. "Jangan kau jual murah lubang kencingmu." Masuk tokoh lainnya. Seorang seniman, yang mengenalkan diri sebagai tokoh, Ratna Sarumpaet. 

Dia ingin meminjam kalimat dari tukang becak itu. Katanya, telah menambah sedikit inspirasinya dari lagu tadi.

Begitulah sepotong adegan dipermulaan. Namun, tak kalah lucunya adegan berikutnya. Ketika, wartawan datang saat mencari liputan di lokalisasi itu. Wartawannya terlambat. Dia bingung mencari narasumber. Yang tersisa hanya tokoh seniman. Seniman itulah yang dijadikan narasumber.

Seniman itu pun memperagakan bagaimana seorang PSK itu ditanggap. Ketika, ada seniman memeragakan, lelaki yang mendokumentasikan gerakan gemulainya. "Setop. Ini momen bagus," kata sang wartawan. Mengarahkan mata kameranya ke daerah sensetif si seniman yang mengangkang. Dialog itu berlangsung, dan sang wartawan baru sadar jika dia dibohongi oleh seniman tadi. Dia membuat cerita rekayasa.

Ruangan kembali hening. Lampu kembali dimatikan. Namun, apa daya. Sang Wartawan sudah menulis perkara penangkapan seorang PSK. Membuat teman-temannya marah. Disusunlah rencana menangkap wartawan itu.  

Karmila K, yang berperan sebagai germo, terlihat gelisah. Ternyata, pemberitaan tentang kerjaan mereka terbit pagi hari. Hal itu membuat mereka bekerja tidak tenang. Polisi sedang mengincar.

"Mana si wartawan itu. Biasanya, jam segini sudah datang. Dia harus diberi pelajaran," kata Karmila, memasang wajah masam. 

Wartawan dalam jebakan tiga perempuan itu. "Saya juga tahu membuat mata putih lelaki terselip ke atas tanpa kopi jahe dan pijat refleksi," katanya. Kemudian, membakar rokoknya. 

Penonton dibuatnya terbelalak. Perempuan itu, mengisap sebatang rokok putih itu, berulang kali. Sekitar tiga kali. Mereka betul-betul total memerankan perannya sebagai pekerja seks komersial. 
Adegan penyiksaan dimulai. Wartawan terus dirayu terlebih dahulu. Hingga akhinya ia dianiaya hingga dilenyapkan. "Kamu nikmati ini terakhir kalinya," Karmila memperlihatkan tubuhnya ke Iksan.


Deng Becak/sastra ilo

Suara desahan kesakitam terdengar. Penonton pun terkekeh. Hingga lampu kembali dimatikan Daeng becak datang. Ia mengatar ketiganya ke suatu tempat. Bergerak lambat, hingga seorang lelaki hidung belang menjadi pelanggannya. "Tusuk dia," teriak daeng becak, membuat penonton tertawa.

Daeng becak kembali datang. Saat lampu dinyalakan. Ia mengatar ketiganya ke suatu tempat. Bergerak lambat. "Kalau saja suami saya seorang wali kota. Setidaknya ada pekerjaan lain. Saya berhenti dari kerjaan ini," kata Karmila di atas becak. 

Itu pesan terakhir mereka. Di tutup dengan tepuk tangan para penonton. Dan ternyata, para aktor ini, mengaku legah. Bisa tampil dengan keadaan yang tidak biasanya. "Totalitas. Dan harus profesional," tandas kata Astrid yang memerankan salah satu perempuan dalam naskah yang ditulis Fail Pattongtongan itu.

Sutradara Ramly yang berperan sebagai daeng becak mengaku, jika harus berlatih lebih dahulu. Dia mempersiapkan khusus pentas itu. Teater ini diangkat dari penelitian dan observasi kecil-kecilan. Bagaimana segala sesuatunya penuh dengan rekayasa. "Itu yang kami temukan," tandasnya. (RUDIANSYAH/Makassar/HARIAN FAJAR)