slogan

Nyatakan Hadirmu dengan Kreasi, Wujudkan Lewat Cita dan Cinta

10.23.2018

Tampil Gemulai Layaknya Seorang PSK

adegan becak lambat

Menyaksikan Teater "Becak Lambat"

Suara lelaki terdengar lantang di dalam ruangan, memecah keheningan. "Jangan kau jual murah lubang kencingmu". 

BEGITULAH sepenggal kalimat yang keluar dari mulut aktor "Becak Lambat" Teater Kampus Unhas (TKU)  di dalam aula SMAN 10 Makassar dalam ajang Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XIV se-Sulselbar oleh Komunitas Seni Adab (Kissa) UIN Alauddin Makassar, Selasa, 23 Oktober, dua hari lalu. https://www.youtube.com/watch?v=Ts5SfXG0npc&t=129s

Saat itu, pencahayan belum dinyalakan. Beberapa pengunjung yang masih sibuk dengan gawainya, tersentak. "Mulai mi," bisik pengunjung perempuan di depan saya. 

Alunan musik pun mulai terdengar. Sepotong lagu, "Garring Apai Nona". Tak lama. Sekitar satu menit, lalu lampu dinyalakan. Pencahayaannya dipusatkan di satu titik, panggung teater. 

Penonton pun melihat, seorang perempuan berpakaian ketat duduk di atas becak. Becak itu bergerak lambat. Didorong seorang tukang becak. Perempuan dan tukang becak saling mengoda.

Begitulah, mereka memulai. Dua aktor lainnya masuk melenggok. Gerakan pinggulnya membuat penonton heboh.
 Tiga aktor perempuan keluar panggung setelah mendapat telepon. Entah, mungkin dari pelanggan.

Tersisa daeng si tukang becak. Dia bernyanyi dengan bahasa bugis. "Jangan kau jual murah lubang kencingmu." Masuk tokoh lainnya. Seorang seniman, yang mengenalkan diri sebagai tokoh, Ratna Sarumpaet. 

Dia ingin meminjam kalimat dari tukang becak itu. Katanya, telah menambah sedikit inspirasinya dari lagu tadi.

Begitulah sepotong adegan dipermulaan. Namun, tak kalah lucunya adegan berikutnya. Ketika, wartawan datang saat mencari liputan di lokalisasi itu. Wartawannya terlambat. Dia bingung mencari narasumber. Yang tersisa hanya tokoh seniman. Seniman itulah yang dijadikan narasumber.

Seniman itu pun memperagakan bagaimana seorang PSK itu ditanggap. Ketika, ada seniman memeragakan, lelaki yang mendokumentasikan gerakan gemulainya. "Setop. Ini momen bagus," kata sang wartawan. Mengarahkan mata kameranya ke daerah sensetif si seniman yang mengangkang. Dialog itu berlangsung, dan sang wartawan baru sadar jika dia dibohongi oleh seniman tadi. Dia membuat cerita rekayasa.

Ruangan kembali hening. Lampu kembali dimatikan. Namun, apa daya. Sang Wartawan sudah menulis perkara penangkapan seorang PSK. Membuat teman-temannya marah. Disusunlah rencana menangkap wartawan itu.  

Karmila K, yang berperan sebagai germo, terlihat gelisah. Ternyata, pemberitaan tentang kerjaan mereka terbit pagi hari. Hal itu membuat mereka bekerja tidak tenang. Polisi sedang mengincar.

"Mana si wartawan itu. Biasanya, jam segini sudah datang. Dia harus diberi pelajaran," kata Karmila, memasang wajah masam. 

Wartawan dalam jebakan tiga perempuan itu. "Saya juga tahu membuat mata putih lelaki terselip ke atas tanpa kopi jahe dan pijat refleksi," katanya. Kemudian, membakar rokoknya. 

Penonton dibuatnya terbelalak. Perempuan itu, mengisap sebatang rokok putih itu, berulang kali. Sekitar tiga kali. Mereka betul-betul total memerankan perannya sebagai pekerja seks komersial. 
Adegan penyiksaan dimulai. Wartawan terus dirayu terlebih dahulu. Hingga akhinya ia dianiaya hingga dilenyapkan. "Kamu nikmati ini terakhir kalinya," Karmila memperlihatkan tubuhnya ke Iksan.


Deng Becak/sastra ilo

Suara desahan kesakitam terdengar. Penonton pun terkekeh. Hingga lampu kembali dimatikan Daeng becak datang. Ia mengatar ketiganya ke suatu tempat. Bergerak lambat, hingga seorang lelaki hidung belang menjadi pelanggannya. "Tusuk dia," teriak daeng becak, membuat penonton tertawa.

Daeng becak kembali datang. Saat lampu dinyalakan. Ia mengatar ketiganya ke suatu tempat. Bergerak lambat. "Kalau saja suami saya seorang wali kota. Setidaknya ada pekerjaan lain. Saya berhenti dari kerjaan ini," kata Karmila di atas becak. 

Itu pesan terakhir mereka. Di tutup dengan tepuk tangan para penonton. Dan ternyata, para aktor ini, mengaku legah. Bisa tampil dengan keadaan yang tidak biasanya. "Totalitas. Dan harus profesional," tandas kata Astrid yang memerankan salah satu perempuan dalam naskah yang ditulis Fail Pattongtongan itu.

Sutradara Ramly yang berperan sebagai daeng becak mengaku, jika harus berlatih lebih dahulu. Dia mempersiapkan khusus pentas itu. Teater ini diangkat dari penelitian dan observasi kecil-kecilan. Bagaimana segala sesuatunya penuh dengan rekayasa. "Itu yang kami temukan," tandasnya. (RUDIANSYAH/Makassar/HARIAN FAJAR)




Tidak ada komentar: