slogan

Nyatakan Hadirmu dengan Kreasi, Wujudkan Lewat Cita dan Cinta

12.19.2022

TKU Pentaskan “Aktor-aktor yang Tersesat dalam Drama Tanda Tanya”, Ada Konflik di Balik Panggung

Para Pemain

TKU-Satu jam lagi pentas akan dimulai. Sutradara tak kunjung datang. Para aktris sudah menunggu lama di panggung. Penonton juga akan segera datang, tetapi para aktris ini bingung nasib pertunjukannya.

Mereka berdebat. Ada yang mau merombak naskah atau membuat naskah baru. Konflik-konflik ini menjadi suguhan pertunjukan di Gedung Pertemuan Alumni (GPA) Unhas, Senin, 28 November malam ini.

Adegan itu merupakan pentas Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kampus Unhas (TKU). Pertunjukan kali dengan mengangkat naskah “Aktor-aktor yang Tersesat dalam Drama Tanda Tanya”. Naskah yang ditulis Irwan Jamal disutradarai Aan Halim Aras.

Sutradara Aan Halim Aras

Sutradara Aan Halim Aras mengatakan, memilih naskah aktor-aktor tersesat karya Irwan Jamal dalam pementasan Dromapora karena naskah tersebut memiliki makna yang dalam. Utamanya dalam memahami dunia keaktoran. “Menjelaskan bagaimana aktor itu yang sebenarnya,” ujar anggota TKU ini.

Mahasiswa Sastra Daerah Unhas ini menyampaikan, naksah ini hendak memperlihatkan proses pentas teater di belakang panggung, dan konflik-konflik yang terjadi di atas panggung. “Itu merupakan permasalahan yang 

tidak jarang terjadi ketika pentas teater ingin di mulai,” ungkapnya.

Proses yang dijalani dalam penggarapan produksi Dromapora ini berjalan selama kurang lebih tiga bulan. “Dimulai dari casting aktor, reading naskah, penggambaran, hingga pada dua minggu terakhir di lakukan pemantapan penggambaran dan aktor yang bermain dalam pementasan dromapora ini ialah para calon anggota baru Teater Kampus Unhas,” tuturnya.

Pemimpin Produksi Dromapora, Muhaiminah Khairati Azis mengatakan, penamaan Dromapora ini sebagai bentuk perwujudan kreasi dan ekspresi untuk agenda akhir dari proses penerimaan calon anggota. “Kami mengangkat tema Euforia Mengungkapkan Rasa,” jelasnya.

Dromapora ini kata Ratih sapaan mahasiswa angkatan 2021 ini, memberikan sebuah sajian sederhana namun eksotis dari para calon anggota. “Penggarapan ini dilakukan selama kurang lebih tiga bulan dengan kerja keras dari kami. Potensi dari kami dan nilai-nilai TKU merupakan DROMAPORA sebagai hasilnya,” pungkas mahasiswa Sastra Indonesia Unhas ini.

Adapun para pemeran berasal dari pelbagai Fakultas di Unhas. Heriyanti (Erin) jurusan Kedokteran Hewan, Andi Khaeria (Ria) jurusan Fisioterapi, Sabila Syahwa Insani (Sabil) jurusan Ilmu Komunikasi, Besse Nurfaddhillah (Beslah) jurusan Kedokteran Hewan, dan Inayah Amaliah Mutmainnah (Nayya) jurusan Sastra Asia Barat. Ada juga Falda Salsabilah (Falda) jurusan Kedokteran Hewan, Muhaiminah Khairati Azis (Rati) jurusan Sastra Indonesia, dan Bertilia Tuto Ola (Lili) jurusan  ilmu Aktuaria.

Kemudian para penata, Nayya sebagai penata bunyi. Aan dan Adrian sebagai penata lampu. Lili, Beslah dan Rati sebagai penata artistik. Nayya, Sabil, Erin, dan Ria sebagai penata kostum.

“Sebagai pimpinan produksi, ini adalah pertunjukan pertama saya dan merupakan kali pertama saya menjalankan sebuah penggarapan,” jelas Ratih. (ham/*)


28 November 2022

https://harian.fajar.co.id/2022/11/28/tku-pentaskan-aktor-aktor-yang-tersesat-dalam-drama-tanda-tanya-ada-konflik-di-balik-panggung/


Melingkar Sebelum Pentas

Diterima sebagai Keluarga TKU


ARSIP FTMI 2000: Rektor yang Wakili Dekan



Menghadiri sebuah pentas seni bagi seorang rektor tidaklah mudah, apalagi dengan berbagai masalah yang dihadapi baik di dalam maupun di luar kampus. Adalah Rektor Unhas Prof Rady A Gani yang menyempatkan waktunya untuk hadir dan menonton pertunjukan teater yang dikemas Teater Kampus Unhas dalam Festival Teater Mahasiswa Indonesia Se Sulsel di Taman Budaya 25-29 Agustus.

Tapi jangan heran kalau Rektor Unhas ini hadir di acara-acara kesenian, karena berbagai acara kesenian yang diadakan di kampus Unhas, dia jarang absen.

Tidak hanya itu, ternyata mantan Bupati Wajo ini juga dijadwalkan untuk buka acara festival tersebut. Dengan gayanya yang khas tanpa teks, Prof Rady mengawali kata sambutannya. Namun, ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Rektor Unhas ini. Apakah itu?

Ternyata ia hadir juga mewakili depan fakultas sastra yang memang tidak hadir pada saat itu, meskipun acara ini dilaksanakan oleh Teater Kampus yang berada pada level univesitas.

Meski demikian, kata-katanya mengalun seperti seniman. Bahkan ketika ditanya usai menyaksikan pertunjukan, dirinya sangat antusias menyaksikan karya mahasiswa. Bahkan kata dia, dari awal dirinya sudah berupaya untuk memancing kreativitas seniman-seniman kampus untuk lebih meningkatkan karya keseniannya. "Ya tentunya dengan segala keminimalannya," katanya.

Seni itu menurutnya merupakan salah satu unsur yang sangat penting, bahkan ia merupakan penyejuk nurani. "Apalagi sebagai seseorang akademisi harus disertai dengan kesenian, karena kalau tidak pekerjaan biasanya terbengkalai," kilahnya.

Dirinya juga sangat menghargai seniman-seniman kampus Unhas yang dengan segala kekurangan baik dari segi prasarana maupun material bisa melaksanakan acara sebesar ini. (m2/fis/b)

Harian FAJAR, 29 Agustus 2000

Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) Se Sulsel diselenggarakan kali pertama Teater Kampus Unhas pada tanggal 25-29 Agustus 2000 di Aula Taman Budaya Sulawesi Selatan, Makassar.


10.31.2022

TKU Wakili Unhas ke Festamasio Banten, Wacana Teaternya: Ujian Pemimpin Bawa Kelompoknya Keluar dari Krisis

FOTO: Muizzu Khaidir

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kampus Unhas (TKU) menjadi perwakilan Universitas Hasanuddin (Unhas) ke ajang Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) 10 Banten. Event nasional teater dua tahun sekali ini diselenggarakan UKM Teater Kafe Ide Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, pada 7-13 November 2022.

Ada sepuluh pementas yang akan menyajikan pertunjukan teater pada ajang festival teater yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2001 di Teater Yupa Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda itu. UKM TKU salah satunya.

TKU mementaskan naskah “Gaung”. Naskah itu ditulis Annisa –merupakan mantan Ketua TKU yang juga mahasiswa Sastra Indonesia. Naskah itu disutradarai Wilianti Eka Putri –mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian.

Pemimpin Produksi TKU, Maisyarah Djamade menjelaskan, untuk lolos ke Festamasio itu melalui proses seleksi yang ketat. Tim melakukan pengambilan gambar teater secara utuh, kemudian diseleksi secara nasional oleh juri yang ditunjuk panitia. Video ini diunggah di kanal YouTube lembaga masing-masing dengan batas kurasi 7 Oktober.

Adapun jurinya dari sutradara-sutradara teater yaitu, Dendi Madiya, Bambang Prihadi, dan RA Yopi Hendrawan Utoyo. Akhirnya pengumuman pada 10 Oktober, TKU dinyatakan lolos.

“Kami berproses dari awal, membuat naskah sendiri dan mengambil gambar. Proses ini sudah berjalan tiga bulan. Itu mulai dari penggarapan naskah hingga proses casting dan latihan,” ujar mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ini.

Mahasiswa angkatan 2021 ini menyebutkan, dalam proses latihan penggarapan naskah beberapa kali melakukan perbaikan. Termasuk perubahan serta penambahan pemain. “Inilah proses. Kami berharap dalam penggarapan ini semoga orang yang menonton pertunjukkan GAUNG ini dapat mengambil hal positif,” jelas perempuan yang menjadi aktris utama pada pertunjukan “Dalih” di FTMI Bone, Juni lalu.

Sutradara “Gaung” Wilianti mengatakan, keikutsertaan TKU di Festamasio sebagai upaya menjaga ekosistem kesenian teater kampus secara nasional. Apalagi, TKU pernah menjadi penyelenggara Festamasio ke-2 pada tahun 2003.

Keterlibatan Wily –sapaannya, pada garapan “Gaung” yang kedua untuk ajang Festamasio. Saat Festamasio ke-9 Teater Sisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan tahun 2019, Wily hanya sebagai aktor di teater “Orang-orang Pendek”.

“Jadi proses yang cukup panjang menjadi sutradara, dari aktor ke asisten sutradara ‘Dalih’, lalu garapan ‘Gaung’ untuk tahun ini,” tuturnya.

Teater “Gaung” penuh adegan simbolik. Zaman krisis ekologi –hujan tak kunjung turun dan kekeringan yang berkepanjangan. Orang-orang yang putus asa berharap jalan keluar. Di tengah kondisi itu, kepemimpinan yang diuji. Masalah yang dihadapi suatu kelompok itu tak kunjung mendapatkan penyelesaian, meskipun terjadi pergantian pemimpin.

Pemimpin pertama rela meletakkan jabatan, jika ada pemimpin yang bisa menyelesaikan masalah yang mendera. Namun, bukan pemimpin sebenarnya yang didapatkan, justru pemimpin yang terpilih hanya memperdayai kelompok itu.

Krisis tak berlalu. Orang-orang mulai panik –gemetaran dan menggaruk-garuk tumbuhnya karena serangan wabah. Yang pada akhirnya, kelompok tidak bisa keluar dari masalah yang dialami.

“Pimpinan baru datang dengan membawa harapan, tetapi diperoleh dengan politisasi untuk menggulingkan sebelumnya. Jabatan dikejar dan diperoleh, namun masalah tidak selesai. Pada akhirnya kawanan terkatung-katung,” ungkapnya.

Bagi Wily, dua makna yang bisa dilihat. Pertama, pemimpin bukanlah soal cara meraih kekuasaan, tetapi pemimpin yang hadir di tengah kelompok dan punya kematangan berpikir, serta visi yang jelas untuk membawa perubahan di kelompoknya.

Kedua, masalah krisis ekologi yang dialami itu, tak bisa melihat zaman krisis itu terjadi. Akan tetapi harus menarik ke zaman-zaman sebelumnya. Apakah kebijakan-kebijakan pemimpin yang dahulu sangat ramah dan pro terhadap lingkungan?

“Jangan sampai kita berpikir krisis yang berkepanjangan itu baru kita sadari setelah semuanya sudah habis,” tuturnya.

Sebelumnya TKU melaksanakan uji coba pertunjukan di Gedung Pertemuan Alumni Unhas, Minggu, 30 Oktober malam, pukul 20.30 Wita. Pentas itu juga dihadiri sejumlah warga TKU. Hadir pula Salahuddin Alam yang merupakan Direktur Eksekutif PP IKA Unhas dan Anno Suparno dari Kabar IKA dan wartawan senior, serta senior TKU, Saharuddin Ridwan.

Naskah “Gaung” akan kembali dipentaskan Selasa, 1 November pukul 16.00 WITA di Gedung Pertemuan Alumni Unhas. Pentas dengan penonton terbatas. Ketua UKM TKU, Rezky Ramadhan Rusdi mengatakan, pelepasan itu diundang UKM-UKM se Unhas dan pejabat kampus. “Kami berharap bisa dilepas oleh Rektor Unhas atau WR Bidang Kemahasiswaan,” jelasnya. (FAJAR, 31 Oktober 2022)

6.16.2022

Pertunjukan “Dalih” Teater Kampus Unhas, Kritik dari Upaya Mereka yang Menutupi Keburukannya






UKM Teater Kampus Unhas (TKU) mementaskan teater “Dalih” pada Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XVI Bone. Festival yang dilaksanakan UKM SSB BSF IAIN Bone pada 9-18 Juni. TKU mementaskan teater “Dalih” di Planet Cinema Bone, Selasa, 14 Juni.

Sebuah pertunjukan dari naskah dan disutradarai, Annisa Effendi. Adapun tim TKU yang berangkat ke FTMI yaitu, Wilianti Eka Putri, Andi Marwati Aldina, Mutmainnah, Adrian Saputra, Sakinah Indah Pratiwi, Ana Jurana, M. Ridwan, Bella Maharani, Resky Ramadhan Rusdi, Maisyarah Djamade, dan Zalzabila.

Sutradara Dalih, Annisa Effendi mengatakan, pada mulanya, naskah ini berawal dari diskusi kecil yang kemudian memunculkan ide besar terkait korupsi.

“Dalih” dipilih menjadi judul naskah sekaligus nama untuk tokoh utama karena kata itu dianggap mewakili eksistensi dari ide yang ingin dibawakan. Dalih juga merupakan tokoh dalam naskah teater tersebut.

“Dalih merupakan seorang kepala daerah sekaligus anak dari seorang gubernur yang terkena kasus korupsi. Ayahnya yang tidak ingin nama baiknya tercoreng membuat strategi, agar Dalih tidak di penjara dengan mengurung dan membuatnya gila serta melakukan kongkalikong dengan orang-orang yang dianggap mampu membenarkan kegilaan Dalih seperti seorang dokter dan jurnalis,” kata Nisa sapaan mahasiswa Sastra Indonesia Unhas ini.

Strategi itu pun kata Nisa berhasil, Dalih tidak di penjara karena ia mengalami gangguan kejiwaan. Selama Dalih dijadikan gila, ia menjadi tertekan dan merasa bahwa lebih baik ia di penjara daripada dibuat gila oleh ayahnya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, selama berada di pengurungannya, Dalih mengalami konflik batin sehingga memunculkan suara-suara di kepalanya yang diwakili oleh Tokoh A dan Tokoh B. “Setelah melewati pergulatan panjang dengan dirinya sendiri serta dengan situasi yang ia alami, pada akhirnya, ia benar-benar menjadi gila,” tuturnya.

Bagi Nisa, pesan yang ingin disampaikan yakni, ide yang diangkat dalam naskah dan pertunjukan ini sangat dekat dengan kita dan bisa terjadi kapanpun, di manapun, dan oleh siapapun. “Ini tidak kita duga untuk berdalih atau mencari alasan dalam menutupi suatu keburukan,” ungkapnya.

Terkait teknis pertunjukan, menurut Nisa, pertunjukan ini berupaya untuk menerobos dinding ke empat antara pemain dan penonton. “Dalam artian kami ingin memutus keterhanyutan penonton, sehingga membuat penonton menyadari bahwa ini hanya sekadar pertunjukan. Setelah keluar dari gedung pertunjukan ada proses berpikir yang mereka alami,” bebernya. (FAJAR, 16 Juni 2022)


Pada FTMI ini ada 15 peserta asal Sulselbar yang menampilkan pertunjukannya sebagai berikut:


UKM Bunga Kodza STAIN Majene

UKM Teater Kampus Unhas

Titik Dua UKM Seni UNM

Lentera HMJ Bahasa Inggris FBS UNM

Biseru 17 Parepare

UKM Seni Katarsis Politeknik LP31 Makassar

UKM Sedaya Mamuju

Perseroan Seni Akuntansi HMA FE Unsulbar

LSBM Estetika UIN Alauddin

Bengkel Sastra Dema JBSI FBS UNM

UKK Seni Sibola IAIN Palopo

SPaSI IMSI KMFIB Unhas

BKMF Teater Kampus FSD UNM

BKMF DE ART Studio UNM

UKM Seni Pandaraq, Sulbar

12.04.2019

Lakon Penuh Intrik


Pertunjukan Orang-orang Pendek

OLEH: 
Burhan Kadir

Dosen FIB Unhas dan Pembina UKM Teater Kampus Unhas
“Orang-orang Pendek” dari Universitas Hasanuddin Makassar beraksi di Taman Budaya Sumatera Utara
Delapan orang perempuan bertandang ke Medan dengan membawa enggran. Tujuh aktris dan seorang sutradara, mereka melakukan pertunjukan teater, 19 November 2019 pukul 16.00 WIB di Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan. Perintis Kemerdekaan No. 33, Gaharu, Medan Tim, Kota Medan Sumatera Utara.
Tim TKU
Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) IX adalah tajuk kegiatan yang membawa perempuan-perempuan tangguh Universitas Hasanuddin ini menjajal panggung pertunjukan tanah Melayu Deli. Festamasio adalah ajang bertukar pengetahuan para pekerja seni kampus nusantara, khususnya bidang teater. Meskipun semangatnya adalah menjadi sang juara, namun sebagai pekerja seni kampus, sharing karya atau diskusi pementasan tetap menjadi kekuatan ajang kompetisi perteateran mahasiswa Indonesia ini.
Sebanyak 12 kelompok teater hadir mewakili kampus. Mereka masing-masing: Teater Teater Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, GSSTF Universitas Padjajaran Bandung, Teater Yupa Universitas Mulawarman, Teater Batra Universitas Riau, Teater Gabi Universitas Sriwijaya Palembang, Teater Syahid UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Teater GBB  Universitas Sultan Agung Tirtayasa Banten, Teater Cafe Ide  Universitas Sultan Agung Tirtayasa Banten, Teater Tiyang Alit Institut Teknologi 10 November Surabaya, teater Institut Surabaya Universitas Negeri Surabaya, dan dari Makassar hadir Teater Titik Dua Universitas Negeri Makassar serta Teater Kampus Universitas Hasanuddin.
Adapun panitia pelaksana Teater Sisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menerapkan sistem kurasi. Para kelompok teater mengirim video pertunjukkan mereka yang nantinya dipentaskan saat festival berlansung. Ada 25 video pertunjukkan yang panpel terima, kemudian dewan jurinya yakni; Yondik Tanto dari Medan, Haris Priyadi dari Jakarta, Imam Soleh dari Bandung. Dari kurasi meloloskan 19 kiriman video dari 25 kelompok teater mahasiswa. Namun, hingga kegiatan ini terlaksana hanya 12 kelompok teater yang hadir dan mementaskan karya-karya mereka. Mungkin ke-7 kelompok teater mahasiswa yang tidak hadir terkendala biaya pertunjukan ke Medan Sumatera Utara. Karena dari segi kesiapan untuk pentas tak diragukan lagi sebab mereka telah mengirimkan video pertunjukan.
Ada yang menarik dari dua kontestan dari Makassar, Teater Titik Dua Universitas Negeri Makassar dan Teater Kampus Universitas Hasanuddin. Mereka masing-masing menggunakan bambu sebagai properti yang menghidupkan pertunjukan mereka.
Bambu bukan hanya menjadi properti namun juga menjadi simbol kehidupan, kebenaran serta kekuatan manusia-manusia dari golongan masyarakat dari kelas yang dikuasai. Masyarakat yang menjadi korban dari segala siasat penguasa dan pengusaha negeri ini. Bambu adalah bahan murah, tumbuh di desa yang menjadi alat penyambung hidup masyarakat pedesaan, mencari sumber makanan, menjadi pagar, penghalang binatang buas masuk ke rumah-rumah mereka.
Namun selain bambu, Teater Kampus Unhas juga menggunakan plastik untuk kostum mereka yang berwarna-warni. Simbol plastik ini adalah sebuah kepalsuan sengaja digunakan sebagai bentuk kontradiktif dari bambu. Sedangkan warna-warni dari kostum itu sebagai penguat karakter tiap tokoh dalam cerita tersebut, seperti warna merah tanda dari sebuah kemarahan, biru ketenangan, kuning adalah tanda progresif, visioner, hijau adalah sikap yang labil tidak mempunyai pendirian, warna pink menandakan kesenangan, dan orange dengan karakter menolak perubahan, menandakan kemapanan pada kondisinya saat ini.
Sebagai sebuah properti, Teater Kampus Unhas (TKU) menjadikan bambu sebagai alat permainan tradisional, Enggran. Permainan masa kecil yang penuh dengan canda tawa, sebuah kebahagian. Akan tetapi, saat Enggran ini berjalan di atas panggung maka tidak hadir sekadar sebagai media hiburan namun juga sebalai alat kritik.
MELINGKAR DAN BERDOA
TKU pada ajang Festamasio ini mementaskan naskah “Orang-orang Pendek” karya Astrid, mahasiswa Fakultas Hukum dan sebagai sutradara Arlinda Verawaty mahasiswa Fakultas Teknik Unhas. Durasi pertunjukan 45 menit dengan menggambarkan kehidupan orang-orang pendek secara pemikiran, semangat, dan bahkan kelakuan dengan segala intriknya.
Pemikiran pendek tentunya akan melahirkan kelakuan yang pendek pula. Tak ada pikiran tentang imbas dari apa yang telah dilakukan. Pokoknya lakukan saja dahulu, salah belakangan. Pikiran pendek terkadang lahir di sekeliling kita, yang memicu tawuran, yang memicu pencurian bahkan yang memicu seseorang berbuat amoral seperti korupsi. Ini bukan tentang setinggi mana deretan ijazah seseorang sebab pikiran pendek menjebol pikiran dan hati kita hingga tecermin pada apa yang akhirnya kita lakukan.
Fenomena pikiran pendek terlalu banyak kita saksikan sekarang ini, mulai dari tawuran mahasiswa, pelajar, tawuran antar kampung, lorong. Pencurian ayam, celengan masjid sekalipun, uang cetak kitab suci, uang bantuan sosial hingga dana jamaah haji. Pelakunya hingga orang yang tak menempuh pendidikan, orang miskin hingga orang yang berderet titel akademiknya dan punya banyak rekening dan isi yang melimpah disaldo mereka. Pikiran panjang di sini bukan tentang seberapa canggih mereka berpikir agar melakukan itu semua tidak akan diketahui khayalak. Kelakuan itu lahir dari pikiran pendek mereka.
Pikiran pendek salah satunya lahir dari hasrat ingin mencapai sesuatu yang tinggi, suci, posisi, kewibawaan dari sebuah dari kehidupan yang disebut masyarakat sosial, struktur tertinggi secara sosial dan ekonomi. Menurut Pierre Bourdieu manusia memahami dan menilai realitas dan penghasil praktik-praktik kehidupan yang sesuai dengan struktur-struktur objektif, yang kemudian ada yang tempat yang diperebutkan yakni sebuah Ruang sosial. Ruang sosial adalah adalah lapangan bagi kekuatan dan usaha antara agen – agen yang memiliki cara dan tujuan yang berbeda. Lapangan ini dicirikan oleh “aturan permainan”, yang eksplisit maupun yang teratur secara sistemik. Karena lapangan ini dinamis, nilai-nilai yang membentuk modal kultural dan modal sosial juga dinamis dan arbitrer (dapat dipertukarkan).
Dalam meraih posisi pada ruang sosial ini, “aturan permainan” terkadang harus harus punya aturan permainan tersendiri. Modal ekonomi, Modal sosial dan modal kultural adalah kekuatan yang harus dimiliki bila ingin menempati ruang sosial yang tinggi, suci, punya power, dan kewibawaan. Lantas dalam mencapai itu tidak semua penghuni ruang sosial atau kelompok sebuah masyarakat mendapatkannya dari warisan kekayaan, warisan darah biru dan kemampuan untuk  memiliki ijazah tertinggi di dunia pendidikan. Terkadang cara mendapatkan modal itu tidak dengan cara mempertukarkan modal saja. Namun, lebih kepada menikmati jalan pintas memiliki keuntungan dari modal-modal tersebut.
Hal ini kemudian yang coba dihadirkan naskah Orang-Orang Pendek. Bahwa struktur sosial yang akhirnya menciptakan ruang-ruang sosial adalah hanya tentang sebuah perbedaan posisi dan kenikmatan yang ditawarkan posisi-posisi tersebut. Semakin tinggi posisimu maka semakin banyak kenikmatan, kekuasaan yang akan engkau dapatkan.
Lagi-lagi tidak semata tentang fungsi posisi tersebut, namun tentang kebanggaan, tentang berbeda dan lebih baik, yang ujungnya menempati ruang sosial hanya sekedar memperjelas dimana posisimu. Marxis menyebutnya sebagai ketimpangan antar kelas, karena ada yg menguasai dan dikuasai. Akhirnya segalah cara digunakan agar berada pada ruang sosial yang tinggi, sebuah golongan kelas yang menguasai.
Menggunakan properti bambu sekaligus sebagai simbol, alat untuk berada pada kelas menguasai, keluar dari citra orang-orang yang dikuasai. Persoalan cara mendapatkan ruang sosial kelas tinggi adalah nomor sekian intinya adalah berada pada ruang sosial impian tersebut.  Di akhir pertunjukan naskah Orang-Orang Pendek, enggran kemudian menjadi simbol mencapai posisi tinggi dengan bantuan alat menjadi tinggi. Enggran dimaksudkan sebagai alat instan untuk mencapai tempat suci dan tinggi itu.
Sebagai kelompok mahasiswa yang kemudian menjatuhkan pada seni pertunjukan untuk berproses sebagai mahasiswa dengan belajar melihat realita kehidupan lewat sudut pandang teater. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Kampus Universitas Hasanuddin mengangkat tema human interest dalam penampilannya. Sebuah potret kehidupan yang lahir dari pengalaman-pengalaman mereka dari diskusi, membaca bahkan terlibat langsung dalam fenomena tersebut.
DISKUSI PEMENTASAN
Menyajikan pertunjukan dengan konsep teater alienasi. Membawa kesadaran pada dirinya hanya sebagai pemain teater yang berupaya memerankan sebuah tokoh. Ini terlihat saat salah satu pemain yang kemudian berdialog mengambarkan siapa dirinya dan fungsi dia sebagai perantara dengan penonton sambil memanggil dan meminta pendapat penonton.
Tentunya sebagai sebuah pertunjukan dan organisasi kemahasiswaan TKU pasti tidak pernah lepas dari fungsinya sebagai teater proses dan protes. Protes yang ditampilkan lewat pertunjukan teater dan harusnya menghadirkan solusi dan atau paling tidak hadir memberi pemantik kesadaran pada para audiesnya. Ini pula yang menjadi ciri dari teater alienasi tersebut, membuat penonton sadar bahwa mereka hanya sekadar menonton dan menghibur diri lewat pertunjukan teater, tetapi sekaligus menciptakan buah pikir, sebuah pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang sedang mereka tonton.
Selamat kepada Teater Kampus Unhas yang telah menuntaskan lagi satu prosesnya berteater dan tugas sebagai lembaga mahasiswa. Sembilan bulan berproses bukan waktu yang lama, namun proses tersebut mendapat respons yang baik dari Pimpinan Universitas Hasanuddin, sebagai salah satu tujuan Universitas yang menciptakan generasi yang cerdas, handal, dan berbudaya tak hanya diperoleh dari bangku kuliah saja tetapi juga kegiatan-kegiatan kemahasiswaan seperti ini.
Lewat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof Dr. drg. A. Arsunan Arsin, M. Kes., selain akses tempat latihan, juga memberi bantuan delapan tiket PP Makassar-Medan untuk tujuh pemain dan satu sutradara. Harapan kita semua semoga ke depannya akan lebih baik lagi respons-respons pimpinan Universitas terhadap kegiatan-kegiatan kemahasiswaan hingga tak ada lagi peserta yang sudah dinyatakan lolos kurasi sebagai peserta tapi gagal hadir karena terkendala dana. Mungkin salah satu sebabnya karena pimpinan Universitas tidak melihat kegiatan ini sebagai kegiatan yang sangat penting untuk proses bermahasiswa para mahasiswanya dan mereka-mereka harusnya belajar dari Unhas. (*)




10.10.2019

AKTRIS ORANG-ORANG PENDEK

AKTRIS Teater Kampus Unhas (TKU) mementaskan naskah “Orang-orang Pendek” naskah Astrid, mahasiswa Fakultas Hukum dan sutradara Arlinda Verawaty mahasiswa Fakultas Teknik Unhas. Pementasan di Auditorium Prof Dr KH Sahabuddin Universitas Al Asyariah Mandar, Kamis, 10 Oktober pukul 16.00 dan 20.00 Wita. Pentas yang difasilitasi oleh UKM Kosaster Siin Unasman, Sulbar. FOTO ILHA 




FOTO-FOTO ORANG-ORANG PENDEK

Teater Kampus Unhas (TKU) mementaskan naskah “Orang-orang Pendek” naskah Astrid, mahasiswa Fakultas Hukum dan sutradara Arlinda Verawaty mahasiswa Fakultas Teknik Unhas. Pementasan di Auditorium Prof Dr KH Sahabuddin Universitas Al Asyariah Mandar, Kamis, 10 Oktober pukul 16.00 dan 20.00 Wita. Pentas yang difasilitasi oleh UKM Kosaster Siin Unasman, Sulbar. (FOTO SASTRA ILO/TKU)









10.23.2018

Tampil Gemulai Layaknya Seorang PSK

adegan becak lambat

Menyaksikan Teater "Becak Lambat"

Suara lelaki terdengar lantang di dalam ruangan, memecah keheningan. "Jangan kau jual murah lubang kencingmu". 

BEGITULAH sepenggal kalimat yang keluar dari mulut aktor "Becak Lambat" Teater Kampus Unhas (TKU)  di dalam aula SMAN 10 Makassar dalam ajang Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XIV se-Sulselbar oleh Komunitas Seni Adab (Kissa) UIN Alauddin Makassar, Selasa, 23 Oktober, dua hari lalu. https://www.youtube.com/watch?v=Ts5SfXG0npc&t=129s

Saat itu, pencahayan belum dinyalakan. Beberapa pengunjung yang masih sibuk dengan gawainya, tersentak. "Mulai mi," bisik pengunjung perempuan di depan saya. 

Alunan musik pun mulai terdengar. Sepotong lagu, "Garring Apai Nona". Tak lama. Sekitar satu menit, lalu lampu dinyalakan. Pencahayaannya dipusatkan di satu titik, panggung teater. 

Penonton pun melihat, seorang perempuan berpakaian ketat duduk di atas becak. Becak itu bergerak lambat. Didorong seorang tukang becak. Perempuan dan tukang becak saling mengoda.

Begitulah, mereka memulai. Dua aktor lainnya masuk melenggok. Gerakan pinggulnya membuat penonton heboh.
 Tiga aktor perempuan keluar panggung setelah mendapat telepon. Entah, mungkin dari pelanggan.

Tersisa daeng si tukang becak. Dia bernyanyi dengan bahasa bugis. "Jangan kau jual murah lubang kencingmu." Masuk tokoh lainnya. Seorang seniman, yang mengenalkan diri sebagai tokoh, Ratna Sarumpaet. 

Dia ingin meminjam kalimat dari tukang becak itu. Katanya, telah menambah sedikit inspirasinya dari lagu tadi.

Begitulah sepotong adegan dipermulaan. Namun, tak kalah lucunya adegan berikutnya. Ketika, wartawan datang saat mencari liputan di lokalisasi itu. Wartawannya terlambat. Dia bingung mencari narasumber. Yang tersisa hanya tokoh seniman. Seniman itulah yang dijadikan narasumber.

Seniman itu pun memperagakan bagaimana seorang PSK itu ditanggap. Ketika, ada seniman memeragakan, lelaki yang mendokumentasikan gerakan gemulainya. "Setop. Ini momen bagus," kata sang wartawan. Mengarahkan mata kameranya ke daerah sensetif si seniman yang mengangkang. Dialog itu berlangsung, dan sang wartawan baru sadar jika dia dibohongi oleh seniman tadi. Dia membuat cerita rekayasa.

Ruangan kembali hening. Lampu kembali dimatikan. Namun, apa daya. Sang Wartawan sudah menulis perkara penangkapan seorang PSK. Membuat teman-temannya marah. Disusunlah rencana menangkap wartawan itu.  

Karmila K, yang berperan sebagai germo, terlihat gelisah. Ternyata, pemberitaan tentang kerjaan mereka terbit pagi hari. Hal itu membuat mereka bekerja tidak tenang. Polisi sedang mengincar.

"Mana si wartawan itu. Biasanya, jam segini sudah datang. Dia harus diberi pelajaran," kata Karmila, memasang wajah masam. 

Wartawan dalam jebakan tiga perempuan itu. "Saya juga tahu membuat mata putih lelaki terselip ke atas tanpa kopi jahe dan pijat refleksi," katanya. Kemudian, membakar rokoknya. 

Penonton dibuatnya terbelalak. Perempuan itu, mengisap sebatang rokok putih itu, berulang kali. Sekitar tiga kali. Mereka betul-betul total memerankan perannya sebagai pekerja seks komersial. 
Adegan penyiksaan dimulai. Wartawan terus dirayu terlebih dahulu. Hingga akhinya ia dianiaya hingga dilenyapkan. "Kamu nikmati ini terakhir kalinya," Karmila memperlihatkan tubuhnya ke Iksan.


Deng Becak/sastra ilo

Suara desahan kesakitam terdengar. Penonton pun terkekeh. Hingga lampu kembali dimatikan Daeng becak datang. Ia mengatar ketiganya ke suatu tempat. Bergerak lambat, hingga seorang lelaki hidung belang menjadi pelanggannya. "Tusuk dia," teriak daeng becak, membuat penonton tertawa.

Daeng becak kembali datang. Saat lampu dinyalakan. Ia mengatar ketiganya ke suatu tempat. Bergerak lambat. "Kalau saja suami saya seorang wali kota. Setidaknya ada pekerjaan lain. Saya berhenti dari kerjaan ini," kata Karmila di atas becak. 

Itu pesan terakhir mereka. Di tutup dengan tepuk tangan para penonton. Dan ternyata, para aktor ini, mengaku legah. Bisa tampil dengan keadaan yang tidak biasanya. "Totalitas. Dan harus profesional," tandas kata Astrid yang memerankan salah satu perempuan dalam naskah yang ditulis Fail Pattongtongan itu.

Sutradara Ramly yang berperan sebagai daeng becak mengaku, jika harus berlatih lebih dahulu. Dia mempersiapkan khusus pentas itu. Teater ini diangkat dari penelitian dan observasi kecil-kecilan. Bagaimana segala sesuatunya penuh dengan rekayasa. "Itu yang kami temukan," tandasnya. (RUDIANSYAH/Makassar/HARIAN FAJAR)




5.02.2017

Suara Protes Kecil yang Tetap Lantang



STUDIOTKU-Dua Mei 2017, kami memilih pentas. Membacakan puisi "Sajak Anak Muda" karya W.S  Rendra di Hari Pendidikan Nasional di Lapangan Outdoor PKM Unhas. 

Ketika upacara Hardinas itu yang di gelar birokrasi selesai. Giliran event UKM Day berjalan. Di situlah para UKM unjuk kebolehan. Ada tari, paduan suara, karate, dan bakat mahasiswa lainnya dipertontonkan.

Kami 'TKU' juga dapat giliran. Kami memilih pentas kecil-kecilan, membacakan puisi Rendra bertiga (Maria, Rara, dan Rahda) juga satu pemusik (Reza). Gayanya tentu model teaterikal. Itu ciri khas. 

Terik matahari, tentu terasa panas. Penonton juga tak banyak, sebab dari awal UKM Day dihelat hanya puluhan mahasiswa yang setia bertahan menunggu pentas usai. 

Namun, kami tetap harus pentas. Mesti penonton hanya belasan orang saja. Kami yakin suara kecil kami tetap lantang didengarnya. Kami membuatkannya alur dan tiga properti kotak-kotak, payung merah simbol 'kampus merah' sebagai protes kami pada kampus dan mahasiswa. 


Ada tulisan birokrasi-mahasiswa-harus-patuh, IPK-Ijazah-3,5 tahun-kerja. Kami hanya ingin melakukan protes kecil, sebab sebagai mahasiswa 'kami masih butuh kebebasan berpikir'. 

Kami sadar kami dibuai dengan kesibukan perkuliahan, mahasiswa seolah-olah lepas dari kontrol sosial. Yang seharusnya, menjadi 'pengawal kebijakan pemerintah' tak pro rakyat, kebijakan kampus yang tak pro mahasiswa. Kami  ingin dibungkam. 

Makanya, suara-suara lewat sajak Rendra kami ingin tetap mengatakan kepada semua orang, suara protes kecil, akan tetap lantang.

"Sajak anak muda menyampaikan kenyataan miris yang terjadi di negara ini, dituliskan dalam bentuk puisi oleh W.S Rendra," begitu kata Rahda.

Rahda bilang puisi ini memiliki unsur demokratisasi yang kuat dalam menyuarakan jeritan rakyat. Pendidikan yang tidak menyeluruh, kualitas pendidikan pun masih terbatas. Tak semua bisa mengakses pendidikan. Mengapa?. Uang kuliah makin mahal. 

Hal ini sangat bertentangan dengan unsur demokrasi, yaitu adanya persamaan hak antar warga negara. 
Puisi ini juga menggambarkan keadaan mahasiswa yang diciptakan hanya menjadi alat, dibiarkan menjadi seseorang dengan apa yang telah di raih di perguruan. 

Dalam puisi itu misalnya, ada dokter hanya bisa menjadi dokter yang cacat sosial, ijazah lulusan hukum hanya dijadikan tameng namun hukum masih tetap dikhianati dan keadilan yang miring sebelah. 

Mahasiswa hanya dituntut menjadi lulusan terbaik hanya berdasarkan nilai, patuh akan sistem, serta hilangnya hak menguraikan gagasan. Namun dalam dunia kerja?. Nol!. Begitu dalam kemanusiaan. Jangan sampai itu terjadi.  

Puisi Sajak Anak Muda kata Maria, mengambarkan potret pembangunan di Indonesia. Puisi ini mengkritik tentang remaja yang hanya santai dalam masa mudanya dan pasra dengan masa depannya.

Selain mengkritik tentang remaja, puisi ini juga mengkritik tentang sistem pendidikan yang tidak memberi pencerahan. Sistem pendidikan yang mengarah ke Barat. Puisi itu di bawakan dengan teaterikal yang menggambarkan keadaan Mahasiswa yang hanya peduli pada IPK, dan gelar sarjana, abai pada masalah sosial. Bukan kah, kita Mahasiswa menuntut keadilan dalam hal pendidikan. Agar tak ada lagi yang putus sekolah. (*)


Sajak Anak Muda
*W.S Rendra


Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum

Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?

inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini ?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
sementara hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara

Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Jakarta, 23 Juni 1977

"Sajak Anak Muda" di UKM DAY

Dua Mei 2017, Teater Kampus Unhas mementaskan teaterikal puisi "Sajak Anak Muda" karya W.S Rendra di Hari Pendidikan Nasional di Lapangan Outdoor PKM Unhas.











3.29.2016

AKHIRNYA DATANG JUGA


Catatan Pendek Tentang Proses

Akhirnya datang juga meminjam nama acara dari sebuah stasiun tv swasta nasional, kira-kira seperti itulah yang hadir dibenak penulis saat ini. Prosesi penerimaan calon anggota Teater Kampus Unhas (TKU) pun digelar. Wajah-wajah baru yang menyegarkan kemudian hadir. Wajah yang dihiasi harapan oleh mereka-mereka yang telah lebih dahulu ada dan terdaftar sebagai anggota di TKU. Ruang-ruang keberlanjutan proses akhirnya terbuka dan kekhawatiran akan mandeknya regenerasi kini kemudian mulai terkikis.

Kedatangan ini tidak serta merta memberi kelegaan hati sampai taraf seratus persen. Ada beberapa prosesi yang harus dilewati dan mereka-mereka yang datang  akan terseleksi, diantara mereka kemudian akan ada yang tidak terjaring (melihat kebiasaan PPCA sebelumnya), terjatuh, kandas hingga akhirnya hanya mereka-merekalah yang diduga (berdasarkan aturan yang diterapkan selama prosesi) mampu menjadi anggota TKU yang akan tinggal. Pada saat itu harapan menjadi kenyataan yang mungkin saja kenyataaan itu tidak mewakili semua harapan.
***
Berteater merupakan sebuah dunia, sebuah alam dimana orang-orang yang memasuki itu haruslah mampu beradaptasi, mencontoh pada pohon Jati (Tectona sp) yang di musim kemarau harus meranggas. Adaptasi yang bukan sifatnya temporal (sementara ataupun dibuat-buat) namun sebuah nilai alamiah akibat kecintaan  untuk hidup dalam dunia teater itu sendiri. Sebuah dunia proses yang mengutamakan semangat, keinginan berbuat (berkarya), dan tentunya keikhlasan dalam menjalaninya.

Tiga hal tersebut merupakan bahan dasar dalam beradaptasi pada sebuah lembaga teater dalam hal ini lembaga teater kampus (mahasiswa). Semangat yang kuat haruslah tetap terjaga karena semangat inilah nadi proses itu sendiri. Factor-faktor pembatas yang melingkupi keberadaan teater kampus tidaklah sedikit dan lemah namun keterbatasan-keterbatasan itu begitu beragam dan kuat. Menjelma menjadi kekhawatiran bahkan teror mental yang kemudian menggilas dalam ketakutan yang berujung pada terbunuhnya kerja kreatif orang-orang didalamnya (atau mungkin saja pergi meninggalkannya). Semangatlah yang mampu merubah ruang-ruang kekhawatiran menjadi nilai keyakinan untuk tetap hidupnya kreatifitas.
Menyatakan, membuktikan keyakinan (kreatifitas) dengan berbuat, bukan hanya  ternilai pada sesuatu yang besar yang dimaksud tentunya. Tetapi berbuat dimulai dengan hal-hal yang kecil dan sederhana. Dari hal yang sederhana kemudian dijadikan tidak sederhana. Kontinyuitas dalam berbuat (berkarya) kemudian akan mengalir dan menjelma pada intensitas dan kualitas perbuatan (karya). Memelihara kontinyuitas berbuat adalah sesuatu yang harus tetap dilakoni. Menangkap ide, kegelisahan melihat keadaaan sekitar, dan keberanian mengangkat gagasan kemudian akan menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Kesemua bagian dunia proses itu kemudian dibalut dalam bingkai hati yang ikhlas, menjadikan proses bukan sebagai media kepentingan pihak tertentu. Motif-motif yang hadir terlebur dalam sebuah pemahaman kerelaan berkorban lebih dari sekedar nilai partispatif saja. Dan pada akhirnya pemaknaan akan berproses mulai hadir, pengambilan hikmah dari setiap yang terjadi dan penemuan-penemuan nilai akan tampak, akhirnya proses merupakan makanan ruhani para penggiatnya. Eksplorasi bentuk, tekstur, dan struktur karya akan kemudian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses itu sendiri, hingga intensitas yang dibarengi kualitas terlihat menjadi warna yang khas dari proses itu. Dalam tiap kesempatan kemudian orang-orang akan menantikan karya-karya itu, menceritakannya setelah melihat/menonton, mengambil pesan atau mungkin pelajaran didalamnya atau juga hanya sekedar pelampiasan emosi (tertawa, menangis mungkin?) mengingat salah satu adegan yang boleh saja pernah dia rasakan. Hingga  proses itu kemudian jelas berarti untuk semua.

Nyatakan hadirmu dengan kreasi wujudkan lewat cita dan cinta

Penulis Arafat Andi
Mantan Ketua UKM Teater Kampus Unhas
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin