slogan

Nyatakan Hadirmu dengan Kreasi, Wujudkan Lewat Cita dan Cinta

5.18.2007

Sekedar catatan mengomentari pementasan teater kampus unhas

By Asfriyanto

Tabuhan gendang irama tunrung pakkkanjara membahana , kilatan blitzlamp membelit-belit berbaur dengan asap smokegun. Di atas panggung tampak Karaeng pa’nasuang menghuns badik, diantara kabut asap, ia menikam udara dengan pongahnya, sementara lawannyapun bertindak sama. Sama-sama menghunus mata badik, sama-sama kukuh menunjuk dada lawan. Di antara ketegangan itu, seketika berkelebat penari perempua memutar-mutar kain sarung, melingkari dua lelaki yang sudah siap menantang maut. Seketika panggung berubah menjadi tamasya mitis, gambaran pertaruhan harga diri gaya orang makassar masa lalu, bertikaman dalam selembar sarung atas nama harga diri dan jiwa laki-laki. Mate nisantangi. Senyap. Tak lama setelah itu, aplaus pun bergema, Demikain ending dalam pementasan teater Karaeng Pa’nasuang yang ditampilkan oleh Sukardi, sutradara muda dari Teater Kampus Unhas pada rabu tanggal, 2 Mei 2007 di Baruga APP Pettarani.

Sebenarnya, ada tiga pertujukan teater yang di tampilkan oleh Teater Kampus Unhas siang itu. Saat pintu gedung ditutup tepat pada pukul 11.00 wita , penonton yang kebanyakan mahasiswa, disuguhkan dengan pertunjukan teater dengan judul “wah’, dan kemudian pertunjukan terakhir menampilkan pementasan teater berjudul “Presiden”. Nah, pertunjukan teater Karaeng Pa’nasuang itu merupakan klimaks acara, “karena itu, teater Karaeng Pa’nasunga” menurut Dul- sang arsitek acara- “sengaja ditampilkan pada pementasan kedua”.

Pementasan Teater itu seakan bertolak belakang dengan demontrasi yang dilakaukan diluar gedung, pada hari yang sama. Disaat sebagian mahasiswa melakaukan demosntrasi menuntut penghapusan BHMN, yang bersempena dengan hari pendidikan nasional, di dalam gedung, para awak Teater Kampus Unhas, melakukan demostrasi yang lain, melawan system itu dengan gayanya sendiri, gaya teater. Toh dengan peristiwa itu, seperempat kursi empuk di dalam baruga terisi oleh penonton. Walapun tidak bisa dipungkiri, penonton teater yang asli, yang benar-benar menonton pertunjukan hanya bisa dihitung dengan jari. Penonton yang lainnya? Justru menonton karena ada temannya yang ikut mentas, karena satu almamater, atau karena memang anggota Teater Kampus Unhas.

Menonton karaeng Pa’nasuang, tokoh yang diciptakan oleh Sukardi sebagai penulis naskah sekaligus sutradara pertunjukan itu, memaksa saya untuk kembali memutar memori di kepala, terutama ketika menonton tokoh tubarani dan penasehat raja yang perempuan. Ada kesan sejarah yang cukup kuat mengamti penggambaran tokoh-tokoh perempuan dalam pertunjukan , yakni tentang gambaran tubarani dan penasehat perempaun dalam buku Mathes. Sayapun dengan terkesima mengikutinya, luar biasa eksplorasi gender dan sisi keunkiam orang-orang sulawesi diangkat dengan cukup manis diatas panggung. Namun dalam sesi disukusi yang diadalan setelah pertunjukan itu berakhir, saya cukup kecewa dengan kesimpulan saya, bahkan sangat bertolak belakang ketika Sukardi menyatakan “itu terpaksa kak, tokoh pensehat dan prajurit wanita itu diperankan oleh perempuan karena, aktor laki-laki sudah dipakai oleh pertunjukan tetar yang lain”.

Setali tiga uang dengan pertunjukan yang lain, Pertunjukan teater Wah yang mini kata misalnya, kagetan adanya visualisasi mimpi membayangkan saya bahwa sutrada paling tidak mukai mengeskplor wilayah hakiki manusia , dunia mimpi. Dengan memvisualkan mimpi-mimpi seoarang anak kecil yang berakhir pada buku teks pelajaran. Awalnya saya kagum dengan pencapain eksplorasi kreatif mirip dengan filosofi mimpi ala Freud dan Jung, namun apa lacur, dalam disukusi itu pula Noecil sang sutradar meneguhkan “itu hanya sekedar gambaran anak-anak yang bermimpi”, tidak lebih, dan terasa sangat dangkal. Bahkan ketika keesokan harinya, ulasan pertunjukan itu di koran fajar, hanya ada foto pertunjukan tanpa ulasan yang dalam. Namun demikian, diantara pasang surutnya mahasiswa yang menggeluti dunia teater, dan keringnya perhatian pihak universitas terhadap seni, pertunjukan itu seakan menjadi penanda masih ada seni di kampus merah.

Dalam rentang sejarah yang panjang,Keberadaan Taeater Kampus unhas memilki catatan yang unik, mulai zamannya Nunding Ram, dkk ditahun 70-an, generasinya Ridwan Efenndi tahun 1980-an, Generasinya Asdar Muis tahun 1985-an, generasinya Hasymi 1990-an dan sampai sekarang generasi (Alm) Amri Gallang tahun 1998, memiliki sejarah yang sama, saling jatuh bangun, hidup segan mati tak mau. Anehnya dalam kondisi demikian, generasi Teater Kampus Unhas sebelum masa tahun 2000-an berkiprah dan mencatat berbagai prestasi di tingkat nasioanal. Presatasi dari generasi baru Teater Kamosu Unhas yang terjkhir ditingkat nasioanl justru baru diraih kembali pada tahun 2002 pada Festival teater Mahasiswa Nasioaal di Samarinda dengan merebut piala penyaji terbnaik kedua. Setelah saat itu, praktis dan sampai saat ini teater jampous unahs masih megap-megap mempertahankan keberadaannya sekedar tidak untuk dihapus dalam Lembaga kemahasiswaan tingkat universitas.

Dibalik jatuh bangunnya Teater Kampus Unhas, suatu peristiwa terjadi pada tahun 2002 , ketika itu Tetaer Kampus Unhas akan mementaskasn satu perntunjukannya terbarunya di Gedung Kesenian Societiet De Harmonie, nmaun ketika itu, Teater Kampus Unhas tidak memilki biaya yang cukup untuk menyewa tempat disana, panitia letika itu berusaha melobi untuk membayarnya kemudian hari jika uang bantuan tahunan sebesar Rp 1.500.000 dari Rektorat mengucur, apa lacur pengelola gedung dengan terkpaksa menolak keingingnan tersebut. Sejak saat itu pula, Teater Kampus Unhas seakan memiliki jarak dengan lembaga kesenian terbesar di Sulawesi Seltan tersebut, kenangan tersebut berakar dan berubah menjadi sebentuk kesepakatan untuk sebisa mungkin tidak lagi menggunakan Gedung Kesenian Societiet De Harmoniedengan segalla falisitasnya. Keputusan organisasi ketika itu cukup sulit, sebab saat itu dan sampai saat ini hanya Gedung Kesenian Societiet De Harmonie yang memiliki fasilitas pertunjukan yang lengkap di kota Makassar.

Berbekal kemauan, sedikit demi sedikit peralatan panggung yang mahal seperti lighting dan kain hitam mulai diusahakan dengan cara menyisihkan sebagain dari saldo penjualan tiket pertunjukan dan mulai menghemat biaya produksi dengan menggunakan fasilitas gedung di kampus untuk tempat pertunjukan. Hasilnya, ketakutan akibat ketergantungan pada fasilitas gedung kesenian dan berkurangnya jumlah penonton ternyata tidak terbutkti. Justru di dalam kampus sendiri, Teater Kampus Unhas tersadar bahwa penonton setia berasal dari kalangan mahsiswa unhas sendiri. Sejak saat itu pula Auditorium Baruga APP pettraani sering disulap menjadi gedung pertujukan.

Satu hal yang menarik, sejak awal berdirinya di tahun 1970-an Keorganiasian Teatar Kampus Unhas menganut system anggota seumur hidup. Artinya tercatat sebagai anggota teater kampus Unahs. Namun demikian sudah berulangkali diusulkan untuk menbangun database anggota, sampai saat ini, hal itu belum juga terealisasi. Pelacakan sederhana baru melalaui kumpulan lefleat pertunjukan yang masih tersimpan diarsip pribadi para pendahulu yang masih peduli tentang sejarah Teater Kampus Unhas. Selain itu Teater Kampus Unhas selalu diidentikkan dengan mahasiswa nyetrik yang menyelesaikan kuliahnya digaris finish, artinya tujuh tahun baru bisa selesai. Tak urung fenomena yang menahun dan kabarnya kebiasaa ini telah ada sejak dahulu masih saja dianut oleh generasi teater kampus saat ini.

Bahkan sejak dulu pula, sejak generasi Hasymi tahun 1990-an, gedung dilantai II Pusat Kegiatan mahasiswa Universitas Hasnuddin itu, kerap dijadikan ajang untuk tempat menginap dan latihan. Nah jika seperti itu, penghuni sekretariat Unit kegiatan Mahasiswa yang lain terpaksa mengurut dada. Dipastikan sampai menjelang beduk subuh, tidur malam mereka terganggu oleh suara vocal para actor TKU yang sedang berlatih itu. Kegiatan latihan itu bisa berlangsung sepanjang malam selama tiga bulan. Pementasan Karena iru dibalik pertunjukan Kareeng Pa’nasuang di antas panggung megah Audtorium APP Pettaranai itu, ada kerja keras, ada toleransi dan kebersamaan, namun saat acar itu selesai, bahlkan untuk sekedar basa-basi, tidak sekutip pun ucapan terima kasih yang terlontar dari mulut pembawa acara untuk sekedar berterima kasih kepada penghuni sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa yang lain. Namun saya tahu persis, itu bukan warisan sejarah yang berulang.

No comments: