slogan

Nyatakan Hadirmu dengan Kreasi, Wujudkan Lewat Cita dan Cinta

1.15.2008

PSMG

Tunrung Pakanjara’ pun terdengar di Danau Unhas..

Sebuah catatan pada Pentas Ujicoba Pentas Seni Mahasiswa Unhas-Gorontalo TKU

Oleh Fahmy Husain

Suara gendang bertalu-talu dan harmoni suara kecapi menembus keheningan malam dan gerimis hujan di tepian danau Unhas membawa kami yang mendengarnya kembali pada kerinduan suasana kampung halaman. Tampak beberapa gadis dengan gemulai dan senyuman yang ramah menarikan “tari Padduppa” menyambut kedatangan kami sebagai ucapan selamat datang di acara Pentas Ujicoba PSMG Teater Kampus Unhas. Kembali lagi sebagai wadah seni mahasiswa, TKU ingin mencoba memperlihatkan eksistensinya dalam bentuk pencarian nilai-nilai tradisi seperti pementasan-pementasan yang digarap sebelumnya. Hal ini kontradiktif ketika kita melihat secara objektif kondisi para pemain yang notabene masih disibukkan dengan agenda kuliah yang padat, tapi ternyata tidak menyurutkan semangat dan kerja keras mereka untuk bergelut di bidang kesenian. ”Ini adalah pembelajaran yang berharga buat kami, tidak secara langsung kami dapat belajar tentang banyak hal dalam dunia kesenian, dan itu tidak kami dapatkan dalam ruang kuliah termasuk mempelajari spirit tradisi orang-orang terdahulu” Papar Ketua TKU Andi Nursyamsiah.

Beberapa saat setelah setelah “tari Padduppa” usai, lagi-lagi kami dibawah terbuai dalam suasana hangat kampung halaman dengan acara yang dipandu oleh MC humoris dan komunikatif ala warung kopi. Belum lagi musik “Orkes tu Riolo” yang membawakan beberapa lagu etnis mandar, Makassar, Bugis, dan Toraja yang tak henti-hentinya mengalun sebagai penyambung dan latar acara Ini. Secara cermat hal ini dapat membawa kita mengembalikan asumsi tentang steriotipe orang Sulawesi Selatan yang di nilai “keras” oleh masyarakat luas dalam konteks hubungan sosial, dan kembali pada beberapa bentuk nilai-nilai budaya masyarakat Sulawesi Selatan yang komunikatif, partisipatif dan demokratis . Apalagi pementasan ini akan dibawakan TKU pada Pementasan Makassar-Gorontalo sebagai ajang silaturahmi insan teater kampus di Universitas Negeri Gorontalo nantinya seperti yang di jelaskan ketua panitia Hasbi Asga.

Tak lama setelah itu kembali lagi kami disuguhi sebuah pertunjukan tari “to melebbi” yang memedukan tari dari empat etnis dengan koreografi karya anak TKU sendiri. Tari ini di kolabarasi dengan musik empat etnis yang sangat apik oleh beberapa pemain musik tku. Pertunjukan ini diawali dengan tabuhan gendang Tunrung Pakanjara’ membuat kita dapat merasakan sprit perjuangan yang sangat besar orang orang terdahulu yang patut kita contoh dalam kehidupan dewasa ini dalam berbagai permasalahan bangsa . Dilanjutkan dengan tari masing-masing keempat etnis yang mempunyai nuansa yang berbeda pula. Hal inilah yang membuat pertunjukan ini sangat menarik, dimana memadukan empat budaya yang berbeda dalam karakternya masing-masing dalam sebuah bingkai harmonisasi musik dan tari. “Memadukan keempat etnis ini dengan gerak dan aransemen musik mungkin bisa saja dengan gampang kita pelajari dalam jadwal latihan yang ketat. Tetapi bagi kami hal yang terberat dalam mengaransemen kemudian membawakan tari dan musik To Malebbi ini adalah bagaimana memahami secara lebih filosofis karakter dari keempat etnis yang kami bawakan. Ini sangatlah penting dalam mebangun penjiwaan kami dalam setiap karakter dalam pertunjukan ini” demikian komentar Hasis sebagai koord. Musik To riolo dan Teten sebagai koreografer tari to malebbi dalam diskusi akhir pertunjukan.

Setelah tari dan musik selesai panggung pun berubah menjadi gelap, suasana disekitar danau yang sunyi ditambah lagi dengan turunnya hujan yang deras dan angin yang kencang menambah mistis pertunjukan. Lampu siluetpun menyala. Seorang petani tampak samar dengan sarung yang menutupi badannya duduk di atas sebuah rumah sawah. Ini adalah tanda bahwa pementasan selanjutnya telah di mulai. Pementasan “Teater Tau-Tau atawa Tau” ini adalah pementasan inti dari rangkaian acara ujicoba Pentas Seni Makassar-Gorontalo yang dilaksanakan oleh TKU. Beberapa lampu yang digunakan perlahan mulai menyala dan memeperjelas keadaan diatas panggung. Beberapa orang-orangan sawah bergerak perlahan seiring dengan tarikan pak tani mengusir burung-burung yang mengincar padinya yang telah menguning. Sampai beberapa saat berlalu, musimpun bergantai ditandai dengan peralihan waktu. Akhirnya pak tani meninggalkan sawahnya setelah panen telah usai. Tapi sepeninggal kepergian pak tani, ada hal lain yang ternyata luput dari perhatiannya. Orang-orangan sawah yang telah lama ditancapkan untuk menemaninya menjaga apa yang paling penting dalam kehidupannya ternyata terlupakan. Hal inilah yang membuat orang-orangan sawah ingin bergerak memberontak mempertanyakan eksistensi keberadaan mereka.

Eksplorasi kreatif yang diusung penulis naskah/ sutradara Andi Arafat dengan menggunakan orang-orangan sawah ini sebagai medium cerita imaginatif menghantarkan kita lebih jauh pada berbagai permasalahan bangsa hari ini. Ketika kita bercermin pada berbagai kebijakan pemerintah yang kadangkala merampas hak hidup kaum minoritas. Penggusuran rakyat kecil yang hanya ingin mempertahankan hidupnya dianggap sebagai biang dari masalah kriminalitas, kebersihan kota, dan bahkan demi kepentingan investasi korporasi. Pertanyaannya adalah “apakah kebijakan tersebut adalah solusi kongkrit dari berbagai masalah diatas?” Apakah kita mempercayakan hidup sejahtera menggantungkan diri pada berbagai kepentingan yang justru merampas nilai-nilai hakiki kemanusiaan? Dan mungkin saja berbagai pertanyaan akan membuat kita gelisah mempertanyakan berbagai hal dalam kehidupan ini minimal berguna untuk mengubah cara pandang diri kita sendiri setelah menyaksikan pementasan ini.

“ Sebenarnya ada empat naskah yang kami telah godok dalam Kelas Teater yang sering kami adakan di TKU, tapi pementasan Teater ‘Tau-tau atau Tau” inilah yang kami rasa paling pas dalam konsep acara yang kami akan bawakan di PSMG nantinya. Kami ingin jauh menggambarkan tentang kehidupan agraris di Sul-Sel” jelas Burhan Kadir sebagai Koord. Art acara PSMG TKU di sela-sela diskusi pementasan. Dengan jelas bahwa kita semua seharusnya gembira bahwa kehidupan ide dalam gerak laju zaman yang semakin mengikis nilai-nilai hakiki kehidupan masih ada saja yang mencoba untuk mempertahankannya, apalagi dalam bingkai kreasi. Toh ternyata teater kampus masih bisa memperlihatkan eksistensinya dalam ruang-ruang sempit hiruk pikuk wacana kampus BHMN. Mencoba melakukan perlawanan dengan gayanya sendiri, gaya teater. Bravo Teater Kampus…

No comments: