slogan

Nyatakan Hadirmu dengan Kreasi, Wujudkan Lewat Cita dan Cinta

9.05.2008


Tet..tet..tet..Tum

Sebuah Catatan Pementasan TKU pada FTMII SulSel Bar-Polman

Fahmy Husain

Tet..tet..tet..tum suara ini seperti tak mau habis terdengar di gedung PKM I Unhas, tampak seorang laki-laki paruh baya sangat asyik memainkan wayangnya di depan sebuah gubuk reyot. Sayup-sayup terdengar dendang sayang-sayang (sebuah melodi khas dari mandar) menjadi latarnya. Memang sangat aneh, wayang sebagai sebuah tradisi lisan khas jawa dan sayang-sayang sebagai musik melodi khas mandar sul-bar. Pemandangan ini sangat sering sekali kita dapati di PKM lantai 2 Unhas dalam latihan rutin anggota baru Teater kampus Unhas. Di tengah-tengah kesibukan akademik sebagai kondisi objektif yang sangat real dihadapi para anggotanya, TKU masih saja memperlihatkan bentuk-bentuk eksistensi pencariannya.

Tapi inilah naskah “Jumino” yang membawa Teater Kampus Unhas mendapatkan penghargaan Group terbaik dan sebagai penyaji terbaik Satu di gedung Nasional Polewali Mandar tanggal 20-24 agustus dalam perhelatan Festifal Teater Mahasiswa Indonesia se Sul-sel-Bar. “naskah ini terinspirasi dari cerita seorang transmigran asal jawa yang telah lama bermukim di mandar, tetapi ada yang sangat menyedihkan, sekujur badannya di penuhi oleh tumor. Ini adalah perjuangan hidup yang sangat luar biasa. Cerita tentang kemanusiaan, tetapi yang ironis ketika ternyata biji-biji tumor yang ada di sekujur tubuh jumino dijadikan sebagai alat kepentingan dari segelintir orang hanya untuk kepentingan pribadi” jelas sutradara muda TKU Asbar Tanjung menjelaskan. ”kami sudah melewati proses produksi kurang lebih selama lima bulan, diawali dengan kajian yang rutin dari berbagai sumber tentang kejelasan cerita hidup tentang Jumino sampai pada pembuatan naskah dan proses latihan” Tambahnya.

“ latihan yang rutin, kedisiplinan pemain, penghormatan terhadap proses dalam mengeksplor naskah memang sudah menjadi kata kunci di teater kampus unhas. Mungkin inilah keberhasilan terbesar pencapaian kami dan bukan hal yang sederhana menanamkan dan mempelajari nilai-nilai kemanusiaan ditengah-tengah hiruk pikuk berbagai macam kepentingan sekarang ini” jelas Andi nursyamsiah sebagai ketua TKU.

Sebuah gedung yang sangat sederhana di kota mandar adalah saksi bisu dari perhelatan FTMII kali ini. Pantai yang panjang dan beberapa sandeq tampak sandar berjejer rapi persis berhadapan dengan gedung pelaksanaan kegiatan ini. Sangat kebetulan, karena pada saat sedang berlangsung acara lomba Sandeq Race Pemda Polman. Pemilihan tempat ini sangat strategis, ketika acara pementasan sedang tidak berlangsung beberapa rekan rekan grop teater mahasiswa memilih menghabiskan waktunya menikmati keindahan pantai dan sandeq ini. Tetapi sangat menyedihkan ketika kita memasuki area gedung, sangat nampak bahwa persiapan panitia festifal mempersiapkan acara ini sangat apa adanya. Yang seharusnya ruang pementasan clear dari berbagai cahaya yang tembus dari luar. Dan beberapa kekurangan lainnya. Keterbatasan dana bukanlah sebuah alasan rasional menyalahi konsep yang telah ditawarkan kepada peserta.

Hal yang ironis juga terjadi pada FTMII ini, ketika beberapa kali padamnya lampu menghambat prosesi pementasan yang jelas-jelas sangat merugikan group peserta dan penonton. Hal inilah menjadi pelajaran yang sangat besar ketika mengadakan event yang sama. Tetapi tak patut dipungkiri bahwa sebuah penghargaan besar kepada pelaksana, dengan modal semangat yang besar dan pengalaman yang minim tak membuat mereka untuk tetap mengesplor berbagai kemampuannya dalam mensukseskan kegiatannya. “Memang persiapan panitia kami anggap sangat kurang, padamnya lampu yang sempat membatalkan pementasan awal kami membuat Jumino dan keluarga tidak menonton pementasan kami, padahal target terbesar kami dalam pementasan TKU kali ini adalah bentuk sumbangan moril kami kepada jumino dalam mengarungi hidupnya seperti orang kebanyakan dan jelas bahwa kami memohon maaf sedalam-dalamnya kepada Jumino dan keluarga atas hal ini” Jelas Nurprajatmi selaku pemain.

Dan pada akhirnya sangat jelas bahwa kita semua seharusnya bergembira bahwa kehidupan ide dalam gerak laju jaman yang senantiasa menggilas nilai-nilai hakiki kehidupan hari demi hari, masih ada saja yang mencoba mempertahankannya, apalagi dalam bingkai kualitas kreasi seni teater. Toh ternyata teater kampus masih selalu saja menggeliat memperlihatkan eksistensinya dalam ruang-ruang sempit wacana. Mencoba selalu berjuang melakukan perlawanan dengan gayanya sendiri, gaya teater..Bravo teater kampus!

No comments: