slogan

Nyatakan Hadirmu dengan Kreasi, Wujudkan Lewat Cita dan Cinta

4.04.2012

APRESIASI PEMENTASAN

PENYAKIT SOCIAL YANG MEWABAH
Sebuah Catatan Pementasan

Seorang ibu dengan mata sayu menyanyikan lagu ininnawa sambil mengayun dengan lembut sebuah ayunan dari sarung yang digantungkan pada langit-langit di sebuah rumah sakit jiwa, raut muka dan tatapan matanya jelas tergambar bahwa dia sedang menyaksikan sebuah pemandangan masa lampau yang ada di dalam imajinasinya. Sesaat kemudian lampu fide out digantikan lampu warna hijau dan disusul oleh sekolompok anak kecil dengan riang berlari-lari di atas panggung sambil menyanyikan lagu cincing banca, sebuah lagu yang lazim dinyanyikan oleh anak-anak ketika mereka bermain petak-umpat.
Itulah salah satu adegan dari pementasan teater lagi-lagi karya Asbar Tanjung (salah satu sutradara TKU) yang disutradari oleh Hijrah Nasir dan dipentaskan oleh teater kampus unhas di Gedung AP. Pettarani unhas Kamis 29 Maret 2012 lalu dalam bingkai PRODUKSI KARYA SPEKTRUM 2011, pementasan teater dengan durasi sekitar 45 menit ini dikemas dengan mengambil setting tempat di rumah sakit jiwa sebagai tempat rehabilitasi atau perawatan bagi orang-orang yang secara medis mengalami gangguan jiwa atau dikenal dengan kata gila sehingga penikmat teater yang memadati gedung pertunjukan dibawa pada suasana rumah sakit jiwa berikut dengan berbagai “kegilaan” yang dilakonkan oleh actor. Beberapa adegan dikemas oleh sutradara dengan gaya komikal sebagai simbolisasi dari bebagai “kegilaan” yang terjadi di negeri ini sehingga sesekali membuat penonton tertawa geli. Salah satu adegan yang khas dari pementasan ini adalah aksi komikal seorang actor yang hampir keleruhan durasi pementasan digunakan hanya memandangi, mengelus-elus dan bahkan mengecupi bagian-bagian kursi dan bahkan tidur dengan memeluk erat kursi tersebut. Namun di tengah keasyikan penonton menikmati aksi-aksi komikal actor, di akhir pementasan penonton tersentak oleh sebuah adegan kagetan ketika ibu yang dari awal pementasan digambarkan dengan sosok seorang ibu yang gila karena ditinggal mati oleh anaknya,tiba-tiba mengangkat sebuah bendera merah putih dari dalam ayunan yang dari tadi diyunkan dengan lembut, untuk beberapa saat, bendera merah puti ditinggalkan di tengah panggung dan kemudian diambil kembali sebagai simbolisasi bahwa harapan teryata masih ada. “Pementasan ini berusaha menguraikan segala bentuk tindakan yang tidak didasari oleh kesadaran, ketidak mampuan orang-orang di negeri ini mengikuti kata batinnya, ketidak mampuan orang-orang di negeri ini mengikuti apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran yang memang mesti dilakukan, kegilaan yang terjadi di negeri ini, tentang kegilaan akan jabatan, kegilaan terhadap harta, dan berbagai kegilaan lainnya yang membuat ibu petiwi menangis dan nyaris kehilangan harapan akan keberlangsungannya” tegas sutradara mudah tku Hijrah Natsir di sela-sela diskusi pementasan yang digelar usai pementasan.
Selain pementasan teater lagi-lagi, teater kampus unhas juga mementaskan Tari Padduppa dan Naskah Perempuan yang ditulis oleh Andy Nursyamsiah (salah satu mantan ketua teater kampus unhas) dan diadaptasi oleh Ilham (salah seorang sutradara Teater Kampus Unhas) pementasan dengan durasi sekitar 40 menit ini bercerita tentang keterkungkungan seorang perempuan di dalam rumah akibat mind set seorang ayah selaku kepala rumah tangga bahwa seorang perempuan selayaknya hanya tinggal di dalam rumah dan mengerjakan segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga serta menyaksikan kekerasan sang ayah pada ibundanya membawa Gadis (nama salah satu tokoh dalam naskah) pada pemborantakan terhadap aturan-aturan ayahnya menjadi seorang fotografer dan keseringan meninggalkan rumah, namun pada akhirnya Gadis dipertemukan dengan sebuah “komunitas” di mana perempuan menjadi “pelayan” bagi laki-laki pada sebuah tempat pelacuran, dan ketika Gadis kembali ke rumah dan merindukan kasih saying seorang ayah, ayahnya malah berbalik berbuat tidak senonoh terhadap anaknya sendiri.“Pementasan ini terinspirasi dari probrematik yang dialami seorang perempuan akibat “system” yang telah lama tercipta tentang perbedaan yang begitu jauh antara laki-laki dan perempuan dalam hal kebebasan berekspresi sebagai tuntutan dari proses kehidupan yang dijalani, tentang stigma bahwa perempuan selayaknya menjadi “pelayan” bagi laki-laki dalam keluarga” jelas Riska firdaus menanggapi beberapa pertanyaan pada diskusi pementasan yang digelar setelah pementasan dilakukan.
“Dua pementasan teater dan satu pementasan tari yang ditampilkan merupakan perjuangan panjang ditempuh oleh masing-masing sutradara dan penanggung jawab tari dimana ketiganya telah berproses dari beberapa bulan lalu” jelas Prabekti Amriadi Ketua Umum Teatek Kampus Unhas. PRODUKSI KARYA sendiri adalah even tahunan yang dilaksanaka oleh tku sebagai rangkaian akhir Prosesi Penerimaan Calon Anggota (PPCA). Proses memanglah hal yang paling utama yang mesti diutamakan dalam berkesenian, latihan ekstra, kedisiplinan dan penghargaan pada proses sehingga apa yang diusung dalam pementasan merupakan hal yang semestinya menjadi kritik bagi pribadi-pribadi yang menjalaninya sebelum kritik itu sampai pada khalayak umum(penonton).

Asbar Tanjung

2 comments:

roemah mayakoe said...

terimaa kasih buat tulisan dan apresiasinyaa, kanda Asbar

Anonymous said...

interesting...kpn ya pnrmaan TKU utk 2012?